HAPPY BIRTHDAY, KAMERAD!
Selamat ulang tahun, kamu!
Bagaimana kabarmu? Apakah kamu sekarang sedang sibuk menekuni dunia yang berhubungan dengan psikologi sosial, sumber daya manusia, perkembangan pendidikan, klinis, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan latar belakang akademismu? Atau kamu sekarang malah menekuni dunia seni? Kalau memang yang terakhir yang sedang kamu tekuni sekarang, sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan untukku, mengingat kamu memang sebenarnya memiliki bakat yang potensial di bidang itu. Bahkan aku ingat jelas, sebenarnya kamu dulu ingin melanjutkan pendidikan sarjana di bidang desain/seni kan? 😀
Mencari tahu tentang kabar dan kesibukanmu adalah hal yang cukup susah aku dapatkan dari dulu. Apalagi kamu sekarang sudah menggandeng gelar Sarjana dan sangat kecil kemungkinan kamu beredar di kampus atau acara kampus seperti yang pernah beberapa kali kamu lakukan dulu. Kamu pun tak terbiasa untuk aktif dalam sosial media, sehingga cukup sulit aku mengetahui informasi tentang keberadaanmu sekarang. Apalagi sekarang akun sosial mediamu dikunci. Ya, mungkin kamu cukup terganggu, karena diam-diam kamu tahu bahwa aku masih sering mencuri lihat beberapa akun sosial mediamu yang masih aktif. Sesungguhnya kebiasaanmu untuk tidak terlalu aktif di sosial media adalah salah satu hal yang aku kagumi dari kamu. Kalau pun kamu menggunakannya, itu juga cukup seperlunya atau untuk keperluan publikasi tentang hasil karya iseng-isengmu saja.
Sempat aku mencuri lihat kamu memberikan komentar mengenai salah satu novel sastra karangan Eka Kurniawan. Jujur, aku cukup kaget ketika mengetahui hal itu. Karena setahuku, novel sastra yang semacam itu jarang kamu sentuh. Walaupun aku tahu, ada beberapa novel sastra karangan penulis kenamaan luar negeri yang kamu gemari.
Sempat pula aku mencuri lihat kabar bahwa kamu menginjakkan kaki di ibukota ini. Sejujurnya itu adalah hal yang diam-diam aku amini dalam hati. Hampir 3 tahun ini aku sama sekali tak pernah melihat secuil pun batang hidungmu dihadapanku. Aku benar-benar ingin sekali bertemu denganmu. Walaupun hanya bertemu sedetik, tapi aku yakin dampaknya akan terasa beratus-ratus, bahkan beribu-ribu jam. Tak jarang aku berharap tiba-tiba bisa bertemu denganmu di event-event gig band indie favoritku yang juga menjadi band favoritmu. Atau mungkin tiba-tiba aku bisa bertemu denganmu di tempat umum, angkutan umum, atau di jalanan yang ramai di ibukota ini. Harapan itu pun tak pernah aku hapus, ketika dengan sengaja aku mengunjungi kota Surabaya untuk bertemu dengan teman-temanku. Namun, ternyata Tuhan memang belum berkehendak seperti itu. Tak apalah, toh Tuhan pun masih berbaik hati dengan seringnya menghadirkan kamu di dalam mimpi-mimpiku.
Beberapa kali aku sempat terperanjat, kaget, bahkan terkadang berdebar-debar bercampur keringat dingin ketika aku terbangun dari tidur dan menyadari bahwa kamulah yang hadir di mimpiku. Kalau memang cara satu-satunya untuk dapat bertemu denganmu adalah melalui mimpi, mungkin aku akan memohon kepada Tuhan, agar aku lebih lama tertidur. Akhir-akhir ini kamu memang cukup sering hadir di dalam mimpiku. Entahlah ada rasa yang cukup menyenangkan, yang ingin membuatku melompat-lompat kegirangan ketika bisa melihatmu tersenyum, bisa melihat ekspresi wajahmu yang suntuk itu, atau bisa melihatmu tertawa. Walaupun sedetik kemudian aku terbangun dan menyadari itu semua hanyalah sekedar mimpi. Sekedar keinginan alam bawah sadarku yang tak kusadari benar-benar muncul ketika aku benar-benar memang merindukan kamu.
Entah mengapa ingatan tentang kamu tak pernah habis dimakan waktu. 6 tahun lamanya kamu masih saja mendiami salah satu sudut di hatiku. Sungguh tak mudah membuang semua ingatan-ingatanku tentangmu. Berkali-kali aku mencobanya, berkali-kali pula aku terlempar lagi, meringkuk bersama ingatan-ingatan tentangmu. Pernah ada yang berhasil mengusirmu dari ingatanku. Tapi ternyata itu hanya sesaat. Sejujurnya, ia yang pernah berhasil mengusirmu dari ingatanku itu, belum bisa melampaui segala sesuatu yang ada padamu. Segala sesuatu yang membuatku enggan untuk mengusirmu jauh dari hati dan ingatanku.
Selama 6 tahun ini, entah karena aku yang masih saja mengingat setiap detail tentangmu atau memang Tuhan sengaja “menghadirkan” kamu di sekelilingku. Ada saja seseorang atau hal-hal tertentu yang langsung mengingatkanku kepadamu. Beberapa bulan terakhir ini aku sungguh dibuat tercekat oleh permainan Tuhan yang ada-ada saja ini. Aku bertemu dengan seseorang yang secara fisik sangat sangat sangat mirip dengamu. Tingginya, kurusnya, hidungnya, matanya, alisnya, senyumnya, wajah cueknya, kulitnya, rambutnya. Hampir semua. Dia adalah salah seorang budak korporat—sama sepertiku, yang berada di satu gedung tempat aku bekerja saat ini. Bisa dibayangkan seberapa sering dan berapa besar kemungkinan aku bertemu dengannya. Apalagi letak ruangannya hanya berjarak 1 lantai dengan ruanganku. Sungguh, pertama kali aku bertemu dengannya ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya. Berkali-kali pun aku harus tercekat dan menelan ludah dengan diam-diam. Bahkan aku harus berusaha menyembunyikan wajah kaget yang sudah bercampur rasa penasaranku tiap kali ia tiba-tiba hadir di hadapanku. Mungkin dia sering merasa aneh kalau bertemu denganku, karena seringkali aku menampakkan wajah yang selalu saja kaget dan heran, seperti ingin berkata OH-YA-TUHAN-AKHIRNYA-AKU-BERTEMU-KAMU-LAGI. Belakangan ini akhirnya aku tau bahwa namanya Mei. Tapi sesungguhnya ia seperti November. Ya, dia seperti kamu.
Bagi para pengusaha dan pegiat bidang marketing, tanggal 11 November tahun ini rupanya dimanfaatkan dengan sangat baik oleh mereka. Berbagai event sengaja mereka luncurkan pada tanggal tersebut. Mungkin karena 11 November adalah waktu yang cukup tepat atau mudah dihafal oleh banyak orang. Tanggal 11 bulan 11. Namun, bagiku tanggal 11 November adalah tanggal yang tidak akan pernah aku lupa sejak 6 tahun lalu, sejak aku mengenalmu. Tak jarang setiap kali melihat angka 11, aku langsung teringat kepadamu. Sampai-sampai aku sering sekali melihat angka 11:11 pada jam digital yang ada di ponsel atau di layar komputerku. Pernah ada yang berpendapat, sesungguhnya itu bisa terjadi karena alam bawah sadar kita sebenarnya mengingat angka tersebut. Ya, tak mungkin aku bisa mengelak dari pendapat yang cukup masuk akal itu.
Sesungguhnya aku ingin berterima kasih kepadamu, berkat angka 11 yang sangat identik denganmu itu aku berhasil mendapatkan secara cuma-cuma 1 eksemplar novel dari penulis favoritku pada bulan Juli 2015 lalu. Novel yang dikirim dan ditandatangani langsung oleh penulisnya. Novel yang pada saat itu belum rilis di toko buku manapun. Novel yang juga menyematkan angka 11 dalam bahasa Inggris pada judul novelnya – Critical Eleven. Sungguh, aku benar-benar tak menyangka bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Ingin sekali rasanya tersenyum seharian ketika namaku diumumkan sebagai pemenangnya. Ingin rasanya aku berbisik di telingamu sambil tersenyum bahwa ini tidak akan mungkin terjadi kalau tidak karena kenanganku tentangmu yang masih saja melekat di ingatanku sampai sekarang. Ya, itu semua terinspirasi dari kamu. Angka kesukaanmu. Angka 11.
Sebenarnya tempatku bekerja pun sudah cukup mengingatkanku tentangmu. Bila berbicara tentang tempatku bekerja saat ini, Jerman adalah hal yang tidak akan mungkin dipisahkan begitu saja. Begitu juga denganmu. Jerman dan kamu adalah hal yang juga tidak dapat dipisahkan. Sungguh, sebenarnya ini salah satu hal yang sering membuatku menarik napas ketika aku menginjakkan kaki di tempat kerjaku atau tiba-tiba aku teringat kamu.
Berbicara tentangmu memang tak akan pernah ada habisnya. Bahkan ketika aku melihat kebetulan yang mengarahkan pada benang merahnya, yaitu kamu. Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar dari salah seorang sahabatku bahwa gadis pujaanmu—yang sudah 5 tahun bersama dengamu itu, ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengan sahabatku itu, namun hanya berbeda lokasi saja. Pun ketika tak sengaja aku melihat sebuah foto yang diunggah salah seorang temanmu di kampus. Dari foto itu aku bisa tahu, ternyata aku dan kamu memiliki sebuah hoodie yang sama. Hahha, sungguh suatu kebetulan bukan?!
Entahlah, terkadang aku sudah lelah menanggung semua rasa ini sendiri. 6 tahun bukanlah waktu yang main-main untuk menyimpan rasa ini sendiri. Salah seorang sahabatku, yang memang sejak dulu sudah mengetahui bagaimana rasaku ke kamu, pernah berkata, “Prima tuh hatinya sudah dikunci sama dia”. Spontan aku terperanjat dan setengah kaget ketika mendengar pernyataannya. Aku tidak bisa mengelak atau membantahnya, bahkan untuk sekedar melempar candaan untuk menutupi kenyataan. Entahlah, rasa ini namanya apa. Tapi ia memang benar, aku merasa pintu hatiku sudah dikunci oleh kamu, bahkan ketika aku sudah berusaha dan berhasil membuka paksa kunci itu. Kamu dengan segala apa yang melekat padamu, tetap saja bisa menguncinya kembali. Banyak yang bilang ini hanya sebuah obsesi. Ingin rasanya berteriak kepada mereka, memperlihatkan bagaimana sekuat tenaga aku berusaha mengusir jauh ingatan tentangmu atau berusaha membuka hati selebar-lebarnya untuk wajah-wajah yang lain.
Sudahlah, mustahil juga aku bisa bersama denganmu. Toh, rasa ini pun bukan lagi berada dalam taraf ingin memilikimu. Aku pun tahu benar, kamu dan gadis pujaanmu itu sudah menjalani tahun-tahun yang sangat panjang, 5 tahun. Tak mungkin kamu dan dia tak berharap hubungan itu berakhir dalam suatu hubungan yang lebih sakral, walaupun realisasinya masih cukup jauh di depan mata. Seandainya keinginan untuk bisa meliahat secara nyata senyummu setelah 3 tahun ini bisa terwujud, bagiku hal itu sudahlah cukup, bahkan sangat istimewa. Walaupun aku tahu, apabila itu memang benar-benar terjadi, aku harus rela senyum itu akan menghilang bersamaan dengan punggungmu yang perlahan-lahan akan berjalan menjauh dariku.
Aku tahu, mungkin berpuluh-puluh tulisan-tulisan tentangmu yang ada di blog ini, berbagai ucapan ulang tahun untukmu yang sengaja aku tulis di sini untukmu, tak akan pernah terbaca olehmu. Tidak, aku sama sekali tidak kecewa. Aku hanya ingin mereka tau, bahwa kamu adalah orang yang sangat luar biasa. Kamu dengan segala daya imajinasi kreatifmu, kamu dengan segala pemikiranmu, kamu dengan segala kepribadianmu, kamu dengan segala apapun yang melakat dalam dirimu. Sungguh, kamu sangat luar biasa hingga membuatku enggan mengusirmu jauh dari ingatanku selama 6 tahun ini. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, biarlah tulisan-tulisan ini menjadi sebuah kenangan, sebagai pengingat bahwa ada rasa yang begitu besar pernah kuberikan untukmu, bahwa ada kenangan yang begitu mendalam pernah kamu goreskan di sini. You’re (still) a belle of the ball, kamerad!
Danke Kamerad!
Jakarta, 11 November 2015.
NB : Sekali lagi, aku ingin mengucapkan, SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 24, KAMU! Terima kasih, kamu masih saja sudi sering-sering mampir di mimpiku. Sungguh, aku benar-benar ingin melihat senyummu lagi, senyum yang secara nyata hadir di hadapanku. :’)
……….
But ironically you will always be
Belle of the ball at least to me
………..
(Mew – Symmetry)



