You’re (Still) a Belle of The Ball

HAPPY BIRTHDAY, KAMERAD!

Selamat ulang tahun, kamu!
Bagaimana kabarmu? Apakah kamu sekarang sedang sibuk menekuni dunia yang berhubungan dengan psikologi sosial, sumber daya manusia, perkembangan pendidikan, klinis, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan latar belakang akademismu? Atau kamu sekarang malah menekuni dunia seni? Kalau memang yang terakhir yang sedang kamu tekuni sekarang, sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan untukku, mengingat kamu memang sebenarnya memiliki bakat yang potensial di bidang itu. Bahkan aku ingat jelas, sebenarnya kamu dulu ingin melanjutkan pendidikan sarjana di bidang desain/seni kan? 😀

Mencari tahu tentang kabar dan kesibukanmu adalah hal yang cukup susah aku dapatkan dari dulu. Apalagi kamu sekarang sudah menggandeng gelar Sarjana dan sangat kecil kemungkinan kamu beredar di kampus atau acara kampus seperti yang pernah beberapa kali kamu lakukan dulu. Kamu pun tak terbiasa untuk aktif dalam sosial media, sehingga cukup sulit aku mengetahui informasi tentang keberadaanmu sekarang. Apalagi sekarang akun sosial mediamu dikunci. Ya, mungkin kamu cukup terganggu, karena diam-diam kamu tahu bahwa aku masih sering mencuri lihat beberapa akun sosial mediamu yang masih aktif. Sesungguhnya kebiasaanmu untuk tidak terlalu aktif di sosial media adalah salah satu hal yang aku kagumi dari kamu. Kalau pun kamu menggunakannya, itu juga cukup seperlunya atau untuk keperluan publikasi tentang hasil karya iseng-isengmu saja.

Sempat aku mencuri lihat kamu memberikan komentar mengenai salah satu novel sastra karangan Eka Kurniawan. Jujur, aku cukup kaget ketika mengetahui hal itu. Karena setahuku, novel sastra yang semacam itu jarang kamu sentuh. Walaupun aku tahu, ada beberapa novel sastra karangan penulis kenamaan luar negeri yang kamu gemari.

Sempat pula aku mencuri lihat kabar bahwa kamu menginjakkan kaki di ibukota ini. Sejujurnya itu adalah hal yang diam-diam aku amini dalam hati. Hampir 3 tahun ini aku sama sekali tak pernah melihat secuil pun batang hidungmu dihadapanku. Aku benar-benar ingin sekali bertemu denganmu. Walaupun hanya bertemu sedetik, tapi aku yakin dampaknya akan terasa beratus-ratus, bahkan beribu-ribu jam. Tak jarang aku berharap tiba-tiba bisa bertemu denganmu di event-event gig band indie favoritku yang juga menjadi band favoritmu. Atau mungkin tiba-tiba aku bisa bertemu denganmu di tempat umum, angkutan umum, atau di jalanan yang ramai di ibukota ini. Harapan itu pun tak pernah aku hapus, ketika dengan sengaja aku mengunjungi kota Surabaya untuk bertemu dengan teman-temanku. Namun, ternyata Tuhan memang belum berkehendak seperti itu. Tak apalah, toh Tuhan pun masih berbaik hati dengan seringnya menghadirkan kamu di dalam mimpi-mimpiku.

Beberapa kali aku sempat terperanjat, kaget, bahkan terkadang berdebar-debar bercampur keringat dingin ketika aku terbangun dari tidur dan menyadari bahwa kamulah yang hadir di mimpiku. Kalau memang cara satu-satunya untuk dapat bertemu denganmu adalah melalui mimpi, mungkin aku akan memohon kepada Tuhan, agar aku lebih lama tertidur. Akhir-akhir ini kamu memang cukup sering hadir di dalam mimpiku. Entahlah ada rasa yang cukup menyenangkan, yang ingin membuatku melompat-lompat kegirangan ketika bisa melihatmu tersenyum, bisa melihat ekspresi wajahmu yang suntuk itu, atau bisa melihatmu tertawa. Walaupun sedetik kemudian aku terbangun dan menyadari itu semua hanyalah sekedar mimpi. Sekedar keinginan alam bawah sadarku yang tak kusadari benar-benar muncul ketika aku benar-benar memang merindukan kamu.

Entah mengapa ingatan tentang kamu tak pernah habis dimakan waktu. 6 tahun lamanya kamu masih saja mendiami salah satu sudut di hatiku. Sungguh tak mudah membuang semua ingatan-ingatanku tentangmu. Berkali-kali aku mencobanya, berkali-kali pula aku terlempar lagi, meringkuk bersama ingatan-ingatan tentangmu. Pernah ada yang berhasil mengusirmu dari ingatanku. Tapi ternyata itu hanya sesaat. Sejujurnya, ia yang pernah berhasil mengusirmu dari ingatanku itu, belum bisa melampaui segala sesuatu yang ada padamu. Segala sesuatu yang membuatku enggan untuk mengusirmu jauh dari hati dan ingatanku.

Selama 6 tahun ini, entah karena aku yang masih saja mengingat setiap detail tentangmu atau memang Tuhan sengaja “menghadirkan” kamu di sekelilingku. Ada saja seseorang atau hal-hal tertentu yang langsung mengingatkanku kepadamu. Beberapa bulan terakhir ini aku sungguh dibuat tercekat oleh permainan Tuhan yang ada-ada saja ini. Aku bertemu dengan seseorang yang secara fisik sangat sangat sangat mirip dengamu. Tingginya, kurusnya, hidungnya, matanya, alisnya, senyumnya, wajah cueknya, kulitnya, rambutnya. Hampir semua. Dia adalah salah seorang budak korporat—sama sepertiku, yang berada di satu gedung tempat aku bekerja saat ini. Bisa dibayangkan seberapa sering dan berapa besar kemungkinan aku bertemu dengannya. Apalagi letak ruangannya hanya berjarak 1 lantai dengan ruanganku. Sungguh, pertama kali aku bertemu dengannya ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya. Berkali-kali pun aku harus tercekat dan menelan ludah dengan diam-diam. Bahkan aku harus berusaha menyembunyikan wajah kaget yang sudah bercampur rasa penasaranku tiap kali ia tiba-tiba hadir di hadapanku. Mungkin dia sering merasa aneh kalau bertemu denganku, karena seringkali aku menampakkan wajah yang selalu saja kaget dan heran, seperti ingin berkata OH-YA-TUHAN-AKHIRNYA-AKU-BERTEMU-KAMU-LAGI. Belakangan ini akhirnya aku tau bahwa namanya Mei. Tapi sesungguhnya ia seperti November. Ya, dia seperti kamu.

Bagi para pengusaha dan pegiat bidang marketing, tanggal 11 November tahun ini rupanya dimanfaatkan dengan sangat baik oleh mereka. Berbagai event sengaja mereka luncurkan pada tanggal tersebut. Mungkin karena 11 November adalah waktu yang cukup tepat atau mudah dihafal oleh banyak orang. Tanggal 11 bulan 11. Namun, bagiku tanggal 11 November adalah tanggal yang tidak akan pernah aku lupa sejak 6 tahun lalu, sejak aku mengenalmu. Tak jarang setiap kali melihat angka 11, aku langsung teringat kepadamu. Sampai-sampai aku sering sekali melihat angka 11:11 pada jam digital yang ada di ponsel atau di layar komputerku. Pernah ada yang berpendapat, sesungguhnya itu bisa terjadi karena alam bawah sadar kita sebenarnya mengingat angka tersebut. Ya, tak mungkin aku bisa mengelak dari pendapat yang cukup masuk akal itu.

Sesungguhnya aku ingin berterima kasih kepadamu, berkat angka 11 yang sangat identik denganmu itu aku berhasil mendapatkan secara cuma-cuma 1 eksemplar novel dari penulis favoritku pada bulan Juli 2015 lalu. Novel yang dikirim dan ditandatangani langsung oleh penulisnya. Novel yang pada saat itu belum rilis di toko buku manapun. Novel yang juga menyematkan angka 11 dalam bahasa Inggris pada judul novelnya – Critical Eleven. Sungguh, aku benar-benar tak menyangka bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Ingin sekali rasanya tersenyum seharian ketika namaku diumumkan sebagai pemenangnya. Ingin rasanya aku berbisik di telingamu sambil tersenyum bahwa ini tidak akan mungkin terjadi kalau tidak karena kenanganku tentangmu yang masih saja melekat di ingatanku sampai sekarang. Ya, itu semua terinspirasi dari kamu. Angka kesukaanmu. Angka 11.

Sebenarnya tempatku bekerja pun sudah cukup mengingatkanku tentangmu. Bila berbicara tentang tempatku bekerja saat ini, Jerman adalah hal yang tidak akan mungkin dipisahkan begitu saja. Begitu juga denganmu. Jerman dan kamu adalah hal yang juga tidak dapat dipisahkan. Sungguh, sebenarnya ini salah satu hal yang sering membuatku menarik napas ketika aku menginjakkan kaki di tempat kerjaku atau tiba-tiba aku teringat kamu.

Berbicara tentangmu memang tak akan pernah ada habisnya. Bahkan ketika aku melihat kebetulan yang mengarahkan pada benang merahnya, yaitu kamu. Beberapa waktu yang lalu, aku mendapat kabar dari salah seorang sahabatku bahwa gadis pujaanmu—yang sudah 5 tahun bersama dengamu itu, ternyata bekerja di perusahaan yang sama dengan sahabatku itu, namun hanya berbeda lokasi saja. Pun ketika tak sengaja aku melihat sebuah foto yang diunggah salah seorang temanmu di kampus. Dari foto itu aku bisa tahu, ternyata aku dan kamu memiliki sebuah hoodie yang sama. Hahha, sungguh suatu kebetulan bukan?!

Entahlah, terkadang aku sudah lelah menanggung semua rasa ini sendiri. 6 tahun bukanlah waktu yang main-main untuk menyimpan rasa ini sendiri. Salah seorang sahabatku, yang memang sejak dulu sudah mengetahui bagaimana rasaku ke kamu, pernah berkata, “Prima tuh hatinya sudah dikunci sama dia”. Spontan aku terperanjat dan setengah kaget ketika mendengar pernyataannya. Aku tidak bisa mengelak atau membantahnya, bahkan untuk sekedar melempar candaan untuk menutupi kenyataan. Entahlah, rasa ini namanya apa. Tapi ia memang benar, aku merasa pintu hatiku sudah dikunci oleh kamu, bahkan ketika aku sudah berusaha dan berhasil membuka paksa kunci itu. Kamu dengan segala apa yang melekat padamu, tetap saja bisa menguncinya kembali. Banyak yang bilang ini hanya sebuah obsesi. Ingin rasanya berteriak kepada mereka, memperlihatkan bagaimana sekuat tenaga aku berusaha mengusir jauh ingatan tentangmu atau berusaha membuka hati selebar-lebarnya untuk wajah-wajah yang lain.

Sudahlah, mustahil juga aku bisa bersama denganmu. Toh, rasa ini pun bukan lagi berada dalam taraf ingin memilikimu. Aku pun tahu benar, kamu dan gadis pujaanmu itu sudah menjalani tahun-tahun yang sangat panjang, 5 tahun. Tak mungkin kamu dan dia tak berharap hubungan itu berakhir dalam suatu hubungan yang lebih sakral, walaupun realisasinya masih cukup jauh di depan mata. Seandainya keinginan untuk bisa meliahat secara nyata senyummu setelah 3 tahun ini bisa terwujud, bagiku hal itu sudahlah cukup, bahkan sangat istimewa. Walaupun aku tahu, apabila itu memang benar-benar terjadi, aku harus rela senyum itu akan menghilang bersamaan dengan punggungmu yang perlahan-lahan akan berjalan menjauh dariku.

Aku tahu, mungkin berpuluh-puluh tulisan-tulisan tentangmu yang ada di blog ini, berbagai ucapan ulang tahun untukmu yang sengaja aku tulis di sini untukmu, tak akan pernah terbaca olehmu. Tidak, aku sama sekali tidak kecewa. Aku hanya ingin mereka tau, bahwa kamu adalah orang yang sangat luar biasa. Kamu dengan segala daya imajinasi kreatifmu, kamu dengan segala pemikiranmu, kamu dengan segala kepribadianmu, kamu dengan segala apapun yang melakat dalam dirimu. Sungguh, kamu sangat luar biasa hingga membuatku enggan mengusirmu jauh dari ingatanku selama 6 tahun ini. Seperti yang pernah aku katakan sebelumnya, biarlah tulisan-tulisan ini menjadi sebuah kenangan, sebagai pengingat bahwa ada rasa yang begitu besar pernah kuberikan untukmu, bahwa ada kenangan yang begitu mendalam pernah kamu goreskan di sini. You’re (still) a belle of the ball, kamerad!

Danke Kamerad!

Jakarta, 11 November 2015.

NB : Sekali lagi, aku ingin mengucapkan, SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE 24, KAMU! Terima kasih, kamu masih saja sudi sering-sering mampir di mimpiku. Sungguh, aku benar-benar  ingin melihat senyummu lagi, senyum yang secara nyata hadir di hadapanku. :’)

……….
But ironically you will always be
Belle of the ball at least to me
………..
(Mew – Symmetry)

Ada Keramahan BNI 46 Diantara Kerasnya Jakarta

Jakarta, satu kota yang memiliki banyak kesan mendalam bagi beberapa orang. Satu kota yang memiliki berjuta-juta pasang kaki dan tangan yang siap sedia berjuang demi dapat bertahan hidup. Satu kota yang mengantarkan takdir saya menjadi salah seorang pekerja keras di sini. 

Jakarta dengan segala gemerlap di sekelilingnya adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Jakarta dengan segala macam bentuk hiburan di setiap sudut kota. Jakarta dengan berbagai macam lampu-lampu yang menyala dan siap menghibur para penduduknya yang kelelahan dimakan waktu di jalan. Bagi perantau seperti saya, berkunjung ke tempat hiburan di akhir pekan adalah hal yang tidak akan luput dari jadwal rutin. Hiburan bagi saya bukanlah berkeliling gedung tinggi yang memajang barang dengan merk ternama di setiap etalasenya. Bukan pula berada diantara lampu warna-warni yang terpasang di berbagai sudut ruangan dengan alunan musik yang menghentak. Tetapi justru yang menjadi hiburan bagi saya adalah ketika saya dapat berdiri, duduk, diam di tengah-tengah ruangan sembari mendengarkan alunan musik dari penyanyi favorit saya. Ya, hiburan bagi saya adalah ketika saya dapat berada di barisan paling depan untuk menonton pertunjukan penyanyi/band favorit saya.

Java Jazz Festival (JJF) adalah salah satu acara musik yang saya tunggu-tunggu, bahkan sebelum saya menjejakkan kaki di Jakarta. JJF tahun 2015 yang diadakan bulan Maret 2015 lalu adalah pengalaman pertama saya datang ke salah satu acara musik terbesar di Jakarta. Harga tiketnya yang tergolong cukup merogoh kantong pekerja pemula di ibukota seperti saya, membuat saya harus mencari cara agar tetap dapat menikmati pertunjukannya tanpa harus menguras tabungan. Setelah mencari berbagai informasi, akhirnya saya dapat bernapas lega. Ternyata ada promo spesial diskon 50% dari BNI 46 untuk setiap pembelian 2 tiket JJF 2015 dengan menggunakan kartu debit/kredit BNI. Karena saya adalah nasabah BNI 46 sejak saya di bangku kuliah tahun 2007 yang lalu, maka saya tidak akan melewatkan kesempatan langka tersebut. Saya pun mengajak teman saya yang memang dari awal juga berniat datang ke acara JJF 2015 itu, sehingga saya dapat menikmati penawaran spesial dari BNI 46 yang cukup terbatas ini.

Namun sayang sekali, keberuntungan tak berpihak pada saya. Ketika saya mencoba membeli tiket JJF 2015 di ticket box yang ditunjuk, penawaran spesial dari BNI telah memenuhi kuota dan tidak diadakan lagi. Akhirnya saya kembali dengan tangan hampa dan kembali mencari cara yang lain. Beruntung, melalui berbagai informasi yang ada, akhirnya saya mendapatkan tiket JJF 2015 dengan harga spesial.

Pada tanggal 7 Maret 2015 yang lalu dengan 2 tiket JJF 2015 di tangan, saya sudah siap menyambut gegap gempita pertunjukan penyanyi favorit saya dan teman saya. Setibanya di lokasi acara JJF 2015, saya sempat melihat berbagai atribut BNI 46 sebagai salah satu sponsornya. Bahkan saya sempat sedikit heran karena melihat banyak papan bertuliskan “Pembelian” di berbagai sudut lokasi dengan loket di sebelahnya yang menyertakan logo BNI 46.

Menjelang sore hari, saya dan teman saya pun mulai merasakan perut keroncongan dan kerongkongan yang semakin kering. Karena penyanyi favorit kami tampil pada malam hari, maka kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Kami pun bergegas menuju area penjualan makanan yang telah disediakan oleh panitia. 

Setelah berkeliling dan memutuskan akan membeli menu makanan yang mana, saya pun mendatangi salah satu stan yang menjual makanan kecil. Betapa kagetnya saya, beberapa lembar uang yang saya keluarkan dari dompet saya ditolak mentah-mentah oleh kasir di stan tersebut. Ternyata sistem pembelian makanan dan minuman di semua area JJF 2015 tersebut menggunakan Tap Cash BNI. Saat itu saya memang belum memiliki Tap Cash BNI, karena memang Taplus BNI 46 yang saya miliki khusus dipergunakan untuk tabungan saja. Kemudian saya pun menanyakan di mana saya dapat membeli Tap Cash BNI tersebut. Kasir pun menujuk salah satu loket pembelian kartu Tap Cash BNI terdekat, agar saya segera bisa membayar pesanan makanan dan minuman itu. Saat itulah saya baru paham fungsi berbagai loket BNI 46 yang saya lihat sejak pertama kali masuk ke lokasi tadi. 

Saya pun kembali ke kasir dengan menyerahkan Tap Cash BNI yang baru saja saya beli dan sudah saya isi saldonya. Saya tersenyum ketika melihat Tap Cash BNI yang saya pegang tersebut. Saya suka gambar yang tertera di kartunya. Tap Cash BNI saya bergambar gitar dan saxophone yang sangat identik dengan musik jazz. Saya berseru dalam hati bahwa saya tak akan mungkin mendapatkan Tap Cash BNI dengan gambar ini apabila tidak membelinya di JJF 2015 ini. Sungguh kesempatan yang cukup langka mendapatkan kartu Tap Cash BNI dengan edisi terbatas seperti ini.

image

Saya pun berpindah ke stan lain untuk membeli makanan pesanan teman saya. Saat itulah saya merasakan kemudahan bertransaksi. Di beberapa acara musik yang pernah saya hadiri sebelumnya, saya sedikit menemukan kendala ketika harus membayar makanan atau minuman yang dibeli. Banyak penjual yang tidak siap dengan uang kembalian, sehingga saya pun harus membeli makanan tambahan lain di tempat yang sama agar mendapatkan uang kembalian yang pas. Selain itu, beberapa kasir tidak terlalu cekatan dalam melayani pembelinya, sehingga seringkali menyebabkan  antrian yang panjang. 

Namun, kendala tersebut tidak saya temui di tempat penjualan makanan JJF 2015 yang lalu. Dengan adanya sistem pembayaran melalui Tap Cash BNI, saya cukup menyerahkan kartu tersebut kepada kasir dan saldo dalam kartu akan otomatis terpotong sejumlah harga yang harus saya bayar. Saya tidak perlu lagi repot mencari beberapa lembar uang yang pas untuk membayarnya. Kasir pun tak perlu susah mencari cara agar tetap ada uang kembalian. Antrian di kasir pun dapat diminimalisir, karena kasir hanya cukup memotong saldo Tap Cash BNI pembeli, dengan alat yang sudah disediakan oleh pihak panitia dan pihak BNI 46.

Kemudahan lain yang saya rasakan sebagai nasabah BNI 46 di JJF 2015 yang lalu adalah saat saldo Tap Cash BNI semakin menipis, saya tak perlu capek mengantri di loket pembelian dan pengisian saldo Tap Cash BNI. Saya cukup mencari mesin ATM BNI 46 yang disediakan panitia JJF 2015 di beberapa sudut lokasi. Cukup dengan mengandalkan kartu ATM BNI 46 yang saya miliki, saya pun dengan leluasa mengisi saldo Tap Cash BNI  saya di mesin ATM. Bahkan saya sempat beberapa kali mengisi saldo kartu Tap Cash BNI saya tersebut tanpa harus mengantri panjang di loket. 

Sementara itu, kemudahan fasilitas yang diberikan oleh BNI 46 tidak serta merta hanya ditujukan untuk nasabahnya saja, tapi juga agar kemudahan tersebut dapat bermanfaat bagi orang di sekelilingnya. Secara tidak langsung, BNI mengajarkan saya untuk peduli dengan orang di sekitar saya. Saat ini, lingkungan kerja saya adalah lingkungan terdekat saya. Dari pagi hingga malam, Senin hingga Jumat saya selalu bertemu rekan-rekan kerja saya. Di tengah hiruk-pikuknya Jakarta yang sebagian besar penduduknya cukup individualis, kepedulian terhadap sesama di lingkungan sekitar semakin hari semakin menipis. Namun, saya selalu berusaha agar tidak termakan arus tersebut.

Beberapa bulan lalu, salah satu kepala bagian di kantor saya tergopoh-gopoh menuju kubikel meja kerja saya. Saya yang saat itu sedang serius menatap layar komputer, sontak menghentikan aktivitas saya. Beliau pun akhirnya menjelaskan duduk permasalahan yang dihadapinya.

Ternyata saat itu, anaknya sedang mendaftar untuk mengikuti ujian masuk salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Jakarta. Pembayaran formulir pendaftaran dan administrasi lainnya dilakukan melalui bank yang telah ditunjuk, salah satunya BNI 46. Karena beliau bukanlah nasabah BNI, maka beliau harus menuju ke loket pembayaran di kantor cabang BNI 46 terdekat. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditunda, beliau pun akhirnya memiliki waktu untuk mengurus pembayaran formulir itu. Namun sayang sekali, sesampainya di kantor cabang BNI 46 terdekat, loket yang akan dituju telah ditutup. Beliau pun akhirnya bertanya pada salah satu Customer Service di kantor itu, apakah ada cara lain untuk melakukan pembayaran tersebut, mengingat saat itu adalah hari Jumat sedangkan batas pembayarannya adalah hari Minggu. Costumer Service tersebut pun menjelaskan dengan ramah dan rinci mengenai cara lain pembayarannya, yaitu melalui ATM BNI 46.

Beliau pun bergegas kembali ke kantor dan menanyakan ke masing-masing orang yang ada di ruangannya, apakah ada yang menjadi nasabah BNI 46. Salah satu orang di ruangan beliau, yang juga merupakan teman saya ketika menonton JJF 2015, dengan cepat menyebutkan nama saya. Tanpa berpikir panjang beliau pun langsung menemui saya. Tanpa berpikir panjang pula, saya pun menyanggupi untuk membantu beliau.

image

Akhirnya setelah jam pulang kantor, saya pun bergegas menemui beliau agar kami segera menuju mesin ATM BNI 46 terdekat yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor. Saya pun segera mengeluarkan kartu ATM BNI 46 saya, kemudian melakukan proses yang telah diinstruksikan oleh salah satu Customer Service BNI 46 tadi. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk melakukan transaksi tersebut. Tak lama, slip bukti pembayaran pun keluar dari mesin ATM. Sungguh benar-benar langkah yang sangat praktis dan mudah. 

Beliau pun bernapas lega dan kembali menampilkan wajah sumringah sembari mengucapkan kata terima kasih berkali-kali kepada saya. Beliau langsung menelepon anaknya untuk mengatakan bahwa pembayaran sudah dilakukan. Saya pun menyunggingkan senyum dan ikut bernapas lega. Sungguh saat itu saya benar-benar baru menyadari bahwa tindakan saya yang hanya sesederhana itu, ternyata dapat membantu orang lain. Bantuan saya yang sekecil itu ternyata berdampak besar bagi orang lain. 

Singkat kata, sebagai nasabah BNI 46 saya benar-benar mendapatkan pengalaman yang sangat menyenangkan. Saya dapat merasakan berbagai kemudahan fasilitasnya, bahkan manfaat tersebut dapat saya bagikan bersama orang lain di sekitar lingkungan saya. 

Jakarta dengan segala gemerlapnya, Jakarta dengan sikap individualis beberapa orang di dalamnya, dan Jakarta dengan segala atributnya akan terasa lebih ramah dan bermakna, ketika kita dapat menyadari kemudahan dan manfaat yang diberikan oleh BNI 46. Perut kenyang, nyanyi riang, dan bisa berguna bagi orang. Terima kasih BNI 46!

Not Quite a Friend, Not Quite a Stranger

Selamat mengulang hari lahir, kamu! Selamat menempuh usia baru!

Bagaimana kabarmu? Mungkin kata-kata ini sering dianggap hanya basa-basi belaka oleh mereka, tapi tidak untuk kali ini. Karena sesungguhnya, aku pun benar-benar ingin mengetahui kabarmu saat ini. Apakah kamu masih saja sibuk mondar-mandir untuk bertemu klien? Apa kesehatanmu sekarang sudah mulai membaik? Apakah kamu masih terikat kontrak untuk menjadi salah satu administrator akun salah satu brand gadget itu? Kamu pasti kaget bagaimana aku bisa menebak bahwa administrator akun itu kamu. Berbagai fiksimu mungkin bisa mengelabui, tapi diksimu tidak. 🙂

3,5 bulan tanpa menjalin komunikasi denganmu itu tidaklah mudah bagiku. Sungguh kesengajaan yang cukup menyiksa. Bagaimanapun, ada kalanya egoku memberontak dan melemah. Ada kalanya aku ingin saja menyerah, mencari namamu di kontak ponselku, dan menghujanimu dengan kata-kata rindu. Hampir saja pertahanan itu runtuh berkali-kali.

Namun entah mengapa, tiap kali aku ingin melakukan itu, rasa tak mengenakkan itu muncul secara tiba-tiba. Sesak, seperti paru-paru yang dipenuhi oleh asap. Perih, seperti luka yang belum kering namun perbannya dibuka secara paksa. Bayangan-bayangan hal-hal yang kubenci darimu tiba-tiba menghadang di mataku, seakan-akan menarik tanganku, agar aku tak jadi melakukan hal yang mungkin bisa saja kusesali nantinya. Menghubungimu.

Sungguh tak mudah untuk menghidari segala sesuatu yang berhubungan denganmu. Bagaimanapun, tak mudah untuk menghapus begitu saja orang yang bisa dengan mudahnya menjebol pertahanan hati yang selama hampir 5 tahun ini dihuni oleh satu nama yang enggan kuusir jauh. Beberapa kali aku harus pasrah pada semesta yang dengan mudahnya membuatku teringat lagi kepadamu, yang membuatku goyah dan ingin segera mengetahui kabarmu saat itu juga. Seperti beberapa waktu yang lalu ketika aku mengunjungi tempat-tempat yang sangat berhubungan denganmu. TIM, Cikini, Teater Jakarta, dan bermacam-macam poster dan banner bertuliskan “empat lima tahun IKJ”. Atau ketika beberapa kali aku melihat ada anak kecil yang sedang bersama ayahnya. Atau bahkan ketika aku berusaha memejamkan mata di ruang berukuran 4×5 ini, ternyata kamu masih saja ada di berbagai sudut ruang ini.

Masih segar diingatanku, alasan mengapa aku bisa begitu membenci bandara Internasional terbesar di Jakarta ini. Bukan karena hiruk-pikuknya. Bukan karena jaraknya. Bukan karena suasananya. Tapi karena segala sesuatu yang ada di sana mengingatkanku padamu, mengingatkanku padanya. Mungkin terdengar berlebihan, tapi sungguh ini benar-benar terjadi. Bahkan beberapa kali ketika mendengar nama bandara itu disebut, dadaku terasa sesak. Membayangkan apa yang terjadi saat itu dan membayangkan apa yang kamu lakukan padanya saat itu, bukanlah suatu pengalaman yang mengenakkan tiap mendengar nama bandara itu disebut. Sementara  saat itu kamu menceritakan padaku dengan senyum yang terkembang, di sini aku dengan susah payah berusaha meredam gemuruh rasa dan asa yang terus menerus meronta-ronta. Bersusah payah membangun pertahanan diri dan mencari sandaran pada hal-hal yang kuyakini dapat menopangku.

Lagi-lagi dadaku terasa sesak, ketika tiba-tiba apa yang selama ini aku bayangkan terjadi juga. Membayangkan hal yang pernah kamu lakukan kepadaku, ternyata kamu lakukan juga kepadanya. Perih. Mungkin saat itu aku sudah lelah denganmu. Mungkin saat itu aku sudah lelah dengannya pula, sehingga dengan segala alasan yang ia lontarkan kepadaku, hati ini masih susah untuk menerimanya.

Maaf teman–yang justru karenamu aku bisa mengenalnya, aku sungguh murka padamu dalam hal ini. Aku tahu alasanmu, tapi aku lelah harus mengalah terus-menerus. Aku dulu pernah berparasangka buruk terhadapmu, tapi saat itu dapat kutepis dengan mudah. Sungguh aku menyayangkan dan merasa sedikit kesal ketika prasangka itu pun akhirnya jatuh lagi-lagi kepadamu. Aku tahu sebenarnya kamu baik, aku tahu pada saat itu kamu membutuhkannya, tapi membayangkanmu bersama dengannya, bukanlah hal yang mudah bagiku saat itu, pun saat sekarang ini.

Terkadang, ketika malam semakin larut dan rinduku semakin carut-marut, ingin rasanya membuang semua bayangan hitam itu dan mencoba mengikhlaskannya, demi dapat memulihkan kembali kebekuan hatimu. Terkadang aku berpikir, semarah itu kah kamu sampai akhirnya tak pernah ada satu kata memaafkan yang kudengar darimu? Semenyebalkankah hal itu, sampai akhirnya tak pernah ada satu kalimat yang terlontar darimu? Dendam kah kamu karena aku tahu beberapa hal yang sengaja kamu simpan dari orang lain? Sampai kapan kamu akan terus diam seperti ini?

Terkadang aku ingin berteriak kepadamu, seharusnya aku juga boleh berhak marah kepadamu, seharusnya bukan aku yang selalu kamu sudutkan. Seharusnya kamu tak boleh mendiamkanku seperti ini selama beberapa bulan. Seharusnya, seharusnya, seharusnya dan masih banyak kata seharusnya yang ingin ku teriakkan di depanmu. Tapi aku rasa itu percuma, karena semuanya tak akan pernah menghasilkan apapun, tak akan pernah membuat kamu menoleh untuk sekedar mencairkan kebekuan ini. And now here we are…..We are just a frengers. Not quite a friend, not quite a stranger…

Jakarta, 19 Juni 2015

NB : Sekali lagi di hari spesialmu ini aku mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Semoga rejekimu semakin bertambah, semoga selalu dilimpahkan kebahagiaan yang cukup. Aku sungguh memohon maaf kepadamu karena semuanya berakhir seperti ini. Kecil kemungkinan atau bahkan aku rasa tak mungkin kamu membaca tulisan ini, tapi sungguh aku minta maaf kepadamu. Bicaralah.

156

15 Juni. 156. 

Mungkin hanya sebagian orang yang mengerti apa makna 156 itu. Termasuk kamu.
Tak banyak yang dapat aku ceritakan tentang kamu. Tapi begitu mendengar 156, spontan yang ada dalam otakku itu kamu.

Aku ingat jelas kamu pernah mengatakan, “Album Frengers itu menurutku malah album yang paling jelek diantara yang lain”, di saat aku mengatakan sebaliknya.

Atau ketika kamu mengatakan, “Aku sekarang lagi pakai tees Mew. Aku kirimin foto kalau gak percaya”. Kemudian beberapa saat setelah itu aku bisa melihatmu dengan jelas, tersenyum dengan menggunakan tees Mew itu.

Untuk para penyuka band Mew—Frengers, begitu mereka menyebutnya, angka 156 ini mempunyai arti yang khusus, termasuk aku. Bagiku angka 156 ini bukan hanya sebagai salah satu judul lagu legendaris dari Mew, tapi juga angka yang mengantarkanku untuk bisa melihat langsung dengan cuma-cuma salah satu band favoritku ini.

Menilik kembali ke belakang, beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 31 Maret 2015, berkat angka 156 inilah aku menjadi orang yang beruntung mendapatkan 1 tiket konser Mew secara cuma-cuma. Konser yang sudah aku angankan bertahun-tahun lamanya. Bagaimana tidak, sekitar 4 tahun lalu aku iseng menulis cerita tentang konser Mew impian bersama dengan lelaki yang kusayangi. Tulisan itu pernah aku posting di blog ini, di sini. Tulisan itu juga yang akhirnya mengantarkanku menuju konser Mew yang sebenarnya. Sayangnya saat itu aku datang ke konser itu bukan dengan lelaki yang kusayangi. 😦

Tahukah kamu, sesaat setelah diumumkan bahwa aku adalah salah satu orang yang beruntung itu, yang pertama kali muncul di otakku adalah kamu? Andaikan kamu tahu, waktu itu ingin sekali rasanya berlompat-lompat meluapkan kegembiraan di depanmu, setidaknya melalui tulisan di layar ponselmu, karena hanya itu yang bisa kulakukan. Andaikan kamu tahu, beberapa hari menjelang konser pun aku masih spontan saja teringat denganmu, berandai-andai bahwa kamu juga akan ada di sana, berandai-andai bisa bercerita panjang lebar sambil menebak-nebak kira-kira apa saja lagu-lagu yang akan dinyanyikan mereka. Tapi angan itu kutepis dengan mudah, karena aku berpikir tak akan mungkin kamu ada di sana. Saat itu bukan waktunya liburan kampus, kamu pasti masih di kota tempatmu kuliah. Lagipula harga tiket konsernya pun tak murah. Tapi sungguh, saat itu ingin sekali rasanya bercerita segala hal tentang konser itu bersamamu. Konser band favoritmu juga, Mew. Tapi yang terjadi aku hanya bisa berteriak kegirangan dalam hati, bahkan tersenyum dalam jeritan getir saat benar-benar melihat Jonas, Silas, Bo, Johan di depan mataku. Senyum yang sangat getir, karena sesaat sebelum aku menginjakkan kaki ke dalam venue, aku melihatmu di sana. Di tempat yang sama. Di waktu yang sama. Di acara yang sama. Konser Mew.

Sungguh, saat itu rasanya tak karuan, entah senang, entah deg-degan, entah ingin teriak. Entah. Karena sesungguhnya aku benar-benar tak menduga kamu akan berada di sana. Aku tak menduga bahwa lamunan iseng-isengku beberapa hari menjelang konser itu menjadi kenyataan. Walaupun dengan segala alasan, kamu tetap bersikukuh mengatakan bahwa yang aku lihat saat itu bukanlah kamu. Tapi rekaman cahaya yang kamu pampang di akun instagrammu telah berbicara bagaimana senyatanya hal itu.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, tak banyak yang dapat aku ceritakan tentangmu. Aku hanya tau bahwa kamu adalah salah satu mahasiswa jurusan Desain Industrial Universitas negeri kenamaan di Bandung yang Fakultas Seni Rupa dan Desainnya sangat terkenal. Seperti beberapa mahasiswa Desain yang lain ada kalanya kamu merasa terjebak di dalamnya. Ingin rasanya tersenyum saja di hadapanmu saat itu. Karena hal itu pun pernah saya dengar dari orang lain. Sama halnya ketika aku akhirnya mendengar keluhan khas mahasiswa Desain dari mulutmu,

“Aduh tugasnya ribet
“Aduh tugasnya banyak”
“Bentar lagi aku ada tugas pameran. Capek banget sampai harus nginep di kampus”
“Hari Selasa itu gak jelas semua mata kuliahnya”

Selain tentang status kemahasiswaanmu, tak banyak yang aku tau tentangmu. Kamu yang penyayang kucing, kamu yang serius menekuni hobi bersepeda, kamu yang justru lebih nyaman di kota tempatmu kuliah daripada di kota tempat tinggalmu sendiri. Kamu yang kadang tiba-tiba saja berubah jadi manis sebentar kemudian berubah jadi cuek, bahkan cenderung marah. Kamu yang penyuka Sonic Youth. Kamu yang penyuka Tame Impala. Kamu yang penyuka musik indie. Kamu yang begini, kamu yang begitu.

Sungguh saat mengenalmu saat itu, ingin rasanya tersenyum terus. Bahkan ketika mendengar kata “Sumpah?!” berkali-kali dari mulutmu saat kamu merespon candaanku yang mengatakan, “Sonic Youth pernah kok nge-gig di kampusku”.

Atau ketika kamu mengatakan, “Aku lagi dengerin Tame Impala sambil jalan ke kost. Tau gak kamu Tame Impala?”, sepulangnya kamu dari kampus yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kostmu. Ingin rasanya tersenyum sambil mencubit lenganmu yang dengan seenaknya saja mencibir pengetahuanku tentang band-band indie.

Mungkin saat itu adalah momen-momen langka yang telah kurindukan setelah sekian lama, sejak aku tak pernah lagi membicarakan segala sesuatu tentang musik yang sama-sama disenangi dengan seseorang yang mampu membuat senyumku terkembang lebar dan hati berdebar. Seperti yang pernah mereka katakan, “Meeting someone with the same music taste is seriously the best thing ever

Mungkin ada kalanya kamu begitu menyebalkan, terutama ketika mood jelekmu itu melanda. Ada kalanya kamu terasa begitu kekanak-kanakan saat semua permintaanmu harus dituruti sebagai salah satu syarat yang kamu ajukan. Tapi ada kalanya kamu begitu benar-benar seperti bukan kamu, padahal itu kamu.

Tahukah kamu, kamu selalu ada di saat aku benar-benar sedih dan lemah karenanya. Kamu ada di 2 dari 3 momen terpurukku karena dia. Sungguh aku ingat betul di akhir Agustus 2014 yang lalu, orang yang benar-benar menamparku sekaligus merangkulku itu kamu. Di saat aku benar-benar tak tahu harus bercerita kepada siapa, kamu ada di sana. Walaupun aku ingat betul, saat itu kamu sedang dalam taraf hubungan yang sedang hangat-hangatnya dengan seseorang yang kamu sayangi. Tapi dengan sabar, kamu mau mendengarkan aku, walaupun dengan sedikit enggan pada awalnya. Tapi entah bagaimana jadinya apabila saat itu aku tak menghubungimu.

Beberapa minggu yang lalu kamu juga melakukan hal yang sama. Di saat aku kecewa dengan kenyataan yang ada, di saat aku menolak semua kenyataan tentangnya yang sekali lagi membuatku sedih itu, kamu ada di sana. Walaupun hanya sesaat dan kemudian kamu pergi lagi hingga sekarang. Pantas saja sebulan sebelumnya, terutama setelah konser Mew usai, selama hampir tiga minggu berturut-turut wajahmu selalu ada di dalam mimpiku bahkan ketika aku sadarpun wajahmu terkadang masih jadi bayang-bayang. Mungkin saat itu Tuhan ingin mengatakan bahwa kamu bisa membantu menghiburku dalam masalah ini.

Entah saat ini kamu sedang ada di mana. Entah kamu masih ingin menghubungiku atau tidak. Entah kamu masih mengingatku atau tidak. Dan entah kamu peduli dengan semua ini atau tidak. Tapi saya sungguh berterima kasih kepadamu. Sungguh, kamu orang yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Kamu adalah Frengers pertama yang selalu saya ingat, ketika berbicara tentang Mew. Terima kasih, kamu. 🙂

NB : Sebagai Frengres kamu tentunya tahu lagu “She Came Home for Christmast” kan?! Ada penggalan liriknya yang mengingatkan tentang kamu. Andaikan waktu bisa diulang, aku tak akan pernah menganggap semua hal yang terjadi saat awal aku berkenalan dengamu adalah suatu lelucon atau suatu hal yang tak serius kamu lakukan. Andai semua bisa diulang, mungkin yang ada di sampingmu saat ini bukanlah dia, tapi (mungkin) aku. 😦

…………….

Don’t touch her there

He watched her

She knew his look from behind

When She Came Home for Christmast

(Mew – She Came Home for Christmast)

Nowhere End

Hey kamu Mr. Busy,
Mungkin julukan Mr. Busy cocok diberikan kepadamu akhir-akhir ini. Aku tahu kamu bukan orang yang pemalas. Aku tahu sesungguhnya kamu bukan orang yang dengan mudahnya mengandalkan orang lain. Terlepas dari apapun yang sebenarnya kamu lakukan akhir-akhir ini, sesungguhnya aku senang apabila kamu bisa sibuk seperti ini. Setidaknya itu pertanda baik bahwa kerja keras yang kamu kerjakan selama ini tidak sia-sia.

“Tahu dari mana aku pekerja keras?” seperti itulah kira-kira pertanyaan yang pernah kamu lontarkan kepadaku.

Setidaknya aku tak perlu menjelaskan panjang lebar jawaban dari pertanyaan tak pentingmu itu. Setidaknya kesibukanmu ini membuatku segan untuk sekedar menyapamu, walaupun dalam hati sebenarnya ingin sekali mengetahui kabarmu. Aku tahu, mereka bilang ini rindu. Tapi apalah artinya rindu, bila yang dirindu pun merindui perindu lain yang tak ingin disebut sebagai perindu. Apalah artinya rindu, bila akhirnya sebuah pertemuan pun hanya dirasa menyenangkan oleh sang perindu saja.

Tahukah kamu, beberapa hari belakangan ini kamu selalu ‘hadir’ di sekitarku. Di berbagai sudut kamar kostku, di jalan setapak, di kubikel meja kerjaku, di layar bioskop mall, di layar smartphone-ku, bahkan kamu hadir sebelum aku memejamkan mata. Aku pun sengaja tak mengusirmu dari sana. Mungkin aku sudah terlalu lelah untuk itu. Sudah terlalu sering aku mengusirmu, toh kamu pun ternyata selalu saja masih ada di sana.

Lelah mengusirmu, aku pun menyibukkan diri dengan kegiatan yang sebenarnya tak berguna. Membuka-buka archive twitter. Betapa aku langsung terhenyak ketika menemukan salah satu postingan di dalamnya, yang ternyata adalah salah satu tweet yang pernah aku tujukan kepadamu.

image

Mungkin saat itu aku tidak tahu, bahwa aku belum menyimpan hatiku dengan benar. Mungkin saat itu aku lupa, walaupun hati itu telah terkunci rapat hampir 5 tahun lamanya, jika memang ada seorang ahli kunci, ia pun akan mudah membukanya. Bahkan ia akan dapat membukannya tanpa bantuan alat sekali pun. Sayangnya, aku tak pernah menduga bahwa ahli kunci itu kamu. Hingga ketika ia terbuka, ia belum siap terjatuh dan akhirnya lagi dan lagi terjatuh di tempat yang salah. Kamu.

Dulu, aku pernah membisikan sesuatu permohonan kepada-Nya. Kemudian dihadirkan-Nya kamu. Kini aku pun membisikkan sesuatu kepada-Nya. Aku membisikan namamu, namanya, nama mereka. Dia rupanya tersenyum. Aku tahu Dia pun setuju. Mereka bilang itu mustahil. Mereka bilang itu munafik. Seperti yang aku sudah katakan berkali-kali, lebih baik masih bisa melihat orang yang disayang walaupun bersama dengan orang lain, daripada tidak bisa melihatnya sama sekali. Setidaknya Dia lebih tahu benar apa yang sebenarnya aku bisikkan kepada-Nya.

Mungkin kamu tidak ingat. Aku beberapa kali melempar kata “terima kasih” setiap kali setelah pertemuanku denganmu. Mungkin kamu menganggapnya sebagai angin lalu. Tapi aku sungguh serius dalam hal itu. Aku sangat berterima kasih atas semua pengalaman yang pernah aku alami selama mengenalmu. Sungguh mengenalmu adalah salah satu pengalaman yang menyenangkan bagiku. Dan seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku tahu kamu masih akan selalu ada di sini. Menjadi teman yang paling susah untuk aku ajak bicara serius. Serius, aku rindu bercanda denganmu!

………………
I don’t have to tell you what I’m feeling
Don’t need to know for whom your feeling is
I just really want to see your face again
And those smiles I’ve seen when you were crying

And when we drink together
I would hold my thirst
I would hold my lust to get higher
……………..
(Nowhere End – The S.I.G.I.T)

(Bukan) Surat Cinta (Cengeng)

14 Februari. Aku tau tanggal ini sangat berarti buatmu. Bukan, bukan karena sebagian orang yang ramai di luar sana menyebutnya sebagai hari kasih sayang atau Valentine. Tapi karena ada suatu kenangan yang masih tertinggal di situ. Tak perlu kujelaskan mengapa tanggal itu sangat berarti buatmu ; setidaknya dulu (dan mungkin masih sampai sekarang).

14 Februari 1 tahun yang lalu, aku masih belum tahu, bahwa apa yang terjadi setelahnya adalah momen – momen yang tak ku duga bisa meresap ke dalam dada. Aku masih belum tahu, bahwa apa yang terjadi setelahnya adalah hal-hal yang sebenarnya biasa saja di matamu, tapi ternyata sangat berharga bagiku.

14 Februari tahun ini. Sekarang. Saat ini. Aku sedang menuliskan surat ini. Surat yang semoga saja tak akan terbaca olehmu. Mereka bilang ini surat cinta, tapi entah apapun namanya, aku hanya ingin menuliskan surat ini kepadamu. Tapi ini bukan surat cinta yang cengeng, walaupun mereka bilang banyak yang jadi cengeng karena cinta. Sesungguhnya aku sedikit tidak nyaman dengan kata “cinta”. Menurutku “cinta” itu sakral dan level tertinggi dari kasih sayang. Aku lebih senang menyebutnya “sayang”. Jadi sepakat ya, ini bukan surat cinta, tapi ini surat sayang.

Ini memang surat sayang. Tapi aku tak pandai mengungkapkan kata-kata sayang. Sungguh, walaupun aku tertarik dengan penulisan sajak-sajak yang romantis itu, tapi ketika aku dihadapkan pada orang yang aku sayang, lidahku serasa tertarik ke dalam, hingga aku tak sanggup mengungkapkan apa yang ada di dalam. Jadi, apabila surat ini tak sengaja terbaca olehmu, kamu tak akan menemukan diksi yang romantis di sini.

Ini memang surat sayang. Tapi sampai kapan pun, aku tak akan bisa memanggilmu sayang. Bukan begitu? Tahu kah kamu, setiap momen yang aku lalui denganmu adalah momen yang menyenangkan buatku, seberapa pun buruknya itu. Aku masih ingat secara mendetail bagaimana awalnya aku mengenalmu. Aku masih ingat baju apa saja yang kamu pakai sewaktu menemuiku. Aku masih ingat bagaimana ekspresimu waktu itu. Aku masih ingat percakapan – percakapan apa saja yang pernah kita bicarakan. Aku masih ingat bagaimana nada suaramu saat itu. Aku masih ingat semuanya. Bahkan perdebatan-perdebatan yang sesungguhnya tak hanya membuatmu kesal tapi juga membuatku sesak. Tak usah khawatir, aku tahu semua itu tak pernah kamu ingat.

“Kita kan sudah sepakat, jadi tak ada kewajiban bagiku untuk mengingat itu semua”, seperti begitulah kira-kira yang pernah kamu katakan kepadaku.

Ini bukan surat sayang yang cengeng. Aku tak akan membiarkan cairan hangat itu menggenang di pipiku, seperti saat egoku yang memuncak itu muncul. Jadi tenang saja, aku tak akan sekalipun menggenangkan cairan hangat di pipiku. Kamu tak perlu repot-repot menenangkan ku, seperti yang pernah kamu lakukan kepadanya, ketika katamu ia menangis di hadapanmu. Tak perlu repot-repot juga kamu memelukku, seperti basa-basi yang pernah kamu katakan kepadaku. Bahkan, sesungguhnya aku tak yakin kamu masih mengingat basa-basi itu.

Ini bukan surat cinta. Ini hanyalah surat yang di dalamnya memuat kerinduan yang sangat kepadamu. Kerinduan yang membuatku sesak. Kerinduan yang membuatku lelah. Kerinduan yang aku tahu tak akan pernah sampai kepada tuannya. Mereka pernah berkata, bahwa tak selamanya sayang itu memiliki. Begitu juga yang pernah kamu katakan ketika kamu mengenangnya. Aku bilang mereka bodoh, termasuk kamu. Tapi ternyata aku yang bodoh. Aku sekarang paham, akan ada saat-saat ketika keadaan memaksamu untuk seperti itu dan kamu akan melakukan hal-hal yang menurut orang lain sangat mustahil. Aku akan selalu tetap berdiam di sini, akan selalu ada doa-doa yang baik ku rapalkan untukmu, untuk dia, dan untuk mereka.

Aku yakin kamu sudah tahu tentang ini dari dulu, dan seperti yang pernah kamu katakan kepadaku, kamu akan tetap di sini dan tak akan pergi. Aku yakin itu, karena kamu akan selalu menjadi temanku yang paling susah diajak bicara serius sekaligus teman paling menyebalkan.

Ah, sial ternyata aku salah. Aku kalah. Aku cengeng.

Seringan Awan

Hey kamu yang selalu membuatku kagum,
Seharian ini Jabodetabek diguyur hujan. Dinginnya udara membuatku semakin enggan beranjak dari tempat tidur. Tapi ternyata hal itu tak membuat diriku begitu cepat lelap tertidur, justru malah membuat otakku bekerja lebih keras. Mengingat kamu (lagi). Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, hujan terkadang membuat seseorang menjadi lebih melankolis dari biasanya dan akhirnya mengingat kenangan-kenangan yang melintas. Entah hal magis apa yang ada dalam hujan, hingga bisa terjadi hal semacam itu.

Ingatkah kamu, awal percakapan kita dulu juga diiringi hujan yang mengguyur Jakarta? Hhhh, tentu saja kamu tidak akan mengingatnya. Otakmu sudah terlalu banyak dijejali banyak kenangan yang lain. Waktu itu hujan memang tidak terlalu deras, kamu yang disana rupanya sedang mengayuh sepeda kesayanganmu sepulangnya kamu dari beraktivitas. Entah benar entah tidak, setidaknya itu yang dulu kamu beritahukan kepadaku. Sejak saat itu aku jadi tahu, ternyata kamu menyukai kegiatan bersepeda yang kamu sebut dengan istilah “ngepit”. “Itu dari bahasa Jawa”, begitu katamu ketika aku bertanya arti dari kata “ngepit”. Ternyata perbendaharaan kata bahasa Jawamu oke juga. Walaupun aku lahir di Jawa, baru kali itu aku mendengar kata “ngepit”, karena yang aku tahu selama ini hanya “ngonthel” dan “mancal”. Sejak saat itu pula aku tahu, ternyata keluarga besarmu kebanyakan berasal dari Jogja, tapi lahir di Jakarta. Itu lah salah satu percakapan kita, selain percakapan-percakapan lain yang tidak terlalu penting yang kamu lempar melalui teks. Terkadang kamu harus mengehentikan percakapan itu, karena kamu harus melanjutkan lagi perjalananmu dengan sepeda kesayanganmu. Kemudian mungkin karena hujan turun lagi, terpaksa kamu harus berteduh dulu demi menyelamatkan nyawa sepeda kesayanganmu itu. Saat itulah, baru kamu bisa melanjutkan percakapan yang entah waktu itu kita berbicara tentang apa saja.

Tak terasa itu sudah terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Iya, 1 tahun lalu. Baru sebentar memang, tapi sudah banyak hal yang terjadi selama 1 tahun belakangan ini. Terutama tentang hatiku. Aku tahu, aku mengingkarinya, mengingkari janji yang pernah kita sepakati : jangan pernah memasukkan sedikit pun hati ke dalam hal ini. Aku pun tahu benar apa alasannya kamu bersikeras dengan pernyataan itu. Bagaikan suatu adonan kue, bila kau campurkan gula ke dalamnya, rasanya akan berubah. Begitu pula dengan aku dan kamu. Ketika akhirnya aku masukkan hati ke dalamnya, aku pun tak seperti dulu lagi. Banyak hal-hal kecil yang seharusnya terasa biasa saja berubah menjadi hal yang menyebalkan. Banyak hal-hal kecil yang tadinya tak penting, mendadak berubah menjadi hal yang utama. Terutama tentang kehadiranmu. Beberapa kali aku harus mencuri-curi waktu di sela-sela hiruk pikuknya aktivitas pagi dan siangku ketika aku harus membalas lemparan katamu melalui teks-teks itu, terutama ketika ada atasan yang selalu mengawasiku dari mejanya. Padahal bagiku, haram hukumnya untuk memainkan ponsel di saat sibuk seperti itu. Mereka ternyata benar, akan selalu ada pengecualian bagi orang yang disayang.

Sejujurnya, kehadiranmu adalah suatu berkah sekaligus petaka buatku. Mungkin kamu tidak tahu, sebelum adanya kamu, aku berusaha untuk membuka diriku dengan kehadiran-kehadiran orang baru. Namun, nyatanya mereka masih belum bisa membuatku berpaling dari dia yang selama 5 tahun ini masih menjadi bayang-bayangku. Entah bagaimana caranya, kamu yang biasa saja ini bisa membuatku berpaling lebih lama kepadamu daripada harus lagi dan lagi mengingat satu nama yang selalu kusebut sebut. Kamu seperti mimpi yang menjadi nyata. Berkali-kali kukatakan, semua yang aku inginkan ada semua di dalam kamu. Iya, memang yang aku inginkan sangatlah biasa saja tapi bagiku justru yang biasa itu sangatlah spesial. Justru itu lah aku tak menyangka, bertahun-tahun lamanya belum pernah aku temui orang yang seperti itu. Kemudian kamu datang dan membuatku terperangah. Tapi beberapa saat kemudian aku sadar berkah itu juga merupakan petaka buatku.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Mungkin sekarang aku sudah lebih tenang. Walaupun terkadang aku masih saja mengedepankan ego yang sebenarnya dalam hitungan detik akan tertampar sendiri dengan kenyataan yang ada. Sesungguhnya aku sangat berterima kasih kepadamu yang bisa sabar menghadapi egoku. “Aku males kalo kamu sudah ngeyelan gitu”, begitu katamu. Itu lah salah satu kelebihanmu, kamu bisa cuek dan kamu tahu bagaimana caranya menghadapi orang seperti aku. Bahkan untuk hal seperti ini yang bisa saja membahayakanmu nantinya.

Sesungguhnya aku juga harus berterima kasih pada hatiku yang ternyata memiliki kemampuan luar biasa menanggung semuanya ini. Mungkin benar kata mereka, pengalaman perlahan-lahan akan mendewasakanmu. Kamu tak perlu khawatir tentang hatiku, dia sudah bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Aaah, sebenarnya ini tak penting juga. Lagi pula kamu kan tak pernah mengkhawatirkanku. Kamu tahu, bagiku yang terpenting sekarang bukan lagi rasa yang harus dibalas. Bukan lagi ego yang harus dituruti kemauannya. Tapi kehadiranmu sebagai seseorang yang selalu bisa membuatku tersenyum karena lelucon lelucon tak pentingmu yang kadang membuatku sebal dan membuatku susah untuk berbicara serius denganmu. Bagaimanapun kehadiranmu membuatku ringan untuk melangkah. Bagaimanapun kehadiranmu selalu membuat hatiku seringan awan.

Di sini semua berawal
Walau seribu tanya bicara
Terbungkam oleh pesona
Tanpa arah semakin jauh ku bertahan
Haruskah ku hilang tanpa pesan
Akan kah ku rindu semua kesan

Sentuhlah hatiku, rasakannya berbeda
Rengkuhlah pikirku, bawaku ke duniamu
Dengarlah harapku, akankah kau mengerti
Bila hadirmu buat hatiku, seringan awan
…………….
(Homogenic – Seringan Awan)

Tak Kan Hilang

Hey kamerad!
How’s your day? Still artsy? Bagaimana rasanya terlepas dari status mahasiswa? Bagaimana rasanya menjadi Sarjana Psikologi tapi berjiwa Sarjana Seni? Masihkah kamu selalu menunggu pertandingan salah satu klub sepak bola yang punya tagline Keep The Blue Flag Flying High” itu? Masihkah kamu selalu berceloteh tentang permainan para pemain-pemain klub itu?

Aku yakin kamu selalu baik-baik saja di sana. Setidaknya itu yang bisa ku intip dari akun sosial mediamu. Kalaupun tak baik-baik saja itu pun tak apa, supaya kamu bisa memperlihatkan wajah kusutmu yang manis itu. Sayangnya aku tak bisa melihatnya lagi. Sudah 2 tahun aku tak pernah lagi bisa melihat sosokmu di hadapanku, dan sudah 5 tahun kamu selalu menjadi bayang-bayangku.

2 tahun tanpa melihat dirimu di hadapanku seharusnya sudah cukup membuatku bisa terlupa akan setiap inchi bagian dari tubuhmu, dan 5 tahun bukan waktu yang sebentar untuk membiarkan memori otakku dipenuhi segala kenangan tentangmu. Tapi nyatanya getaran itu sampai sekarang masih sama. Getaran yang timbul ketika mendengar namamu sengaja atau tak sengaja disebut. Getaran yang timbul ketika aku melihat segala sesuatu yang berhubungan denganmu. Getaran yang timbul juga ketika melihat karya-karyamu.

Tahukah kamu, di kota tempat tinggalku sekarang aku bisa lebih sering menikmati penampilan band band indie kesukaanmu. Aku bisa lebih sering menikmati segala hal yang berbau seni – hal yang kamu juga sukai. Walaupun itu semua semakin membuatku susah untuk melepaskan kenangan tentangmu, tapi sesungguhnya itu adalah hal yang menyenangkan. Sungguh, aku sangat berterima kasih kepadamu atas semua pengalaman ini. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ penyanyi-penyanyi indies Indonesia dan luar negeri kepadaku. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ Stanley Kubrick kepadaku. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ Andy Warhol kepadaku. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ Piet Mondrian kepadaku. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ George Orwell jauh sebelum penulis kenamaan itu membahasnya. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ Festival Film bergengsi di kota Solo kepadaku ; tempatmu pernah berkarya. Terima kasih telah ‘memperkenalkan’ berbagai judul film yang tak biasa kepadaku. Bila bukan karenamu, tak akan mungkin aku bisa mengenal dan akhirnya menikmati serta mencandui hal-hal unik yang menyenangkan ini. Tak jarang aku seperti melihat ‘kehadiranmu’ di setiap berbagai event yang aku datangi. Mungkin inilah salah satu petunjuk untuk melupakanmu : mencarimu dalam sosok orang lain. Terdengar salah, tapi tak sepenuhnya salah. Mereka bilang ini obsesi. Tapi mereka tak pernah tahu, bagaimana usahaku untuk membuka hati demi kehadiran seseorang yang lain. Seberapa besar pun usahaku, masih saja menjadi hal yang sia-sia.

Hey kamu yang mempunyai tempat tersendiri di hatiku,
Bagaimana kabar pujaan hatimu? Gadis gamang – begitu kamu menyebutnya ; dulu. Tentu saja sekarang ia tak perlu gamang lagi, sejak berada di sampingmu. Gadis manis, pintar, dan menyenangkan. Sesungguhnya apabila aku bisa berbicara langsung di hadapannya, aku ingin sekali berkata, “How lucky you are, girl!” Tapi bagaimanapun juga, seperti yang sudah berkali-kali aku katakan, melihatmu bersama dengannya itu sama saja seperti melihatmu dengan alter ego-mu. Jadi tak ada alasan bagiku untuk membenci kehadirannya di sampingmu.

Lalu, bagaimana juga kabar teman-teman se-gank-mu yang berjumlah banyak itu? Tidakkah kamu berminat membuat video pendek ke-3 yang menceritakan tentang kamu dan teman-temanmu? Aku ingat sekali kata-kata yang ada di video pertama itu ketika menampilkan fotomu, “Obsesinya adalah punya banyak obsesi. Tinggal di London. Mati di Surabaya”. Video yang bertabur diksi yang khas ala dirimu. Sama seperti yang terlihat pada karya-karyamu yang lain : poster dan berbagai artwork merchandise event kampus yang lain. Semuanya bertabur diksi yang khas ala dirimu serta tone warna yang khas pula. Bahkan kata-kata yang kamu posting di sosial mediamu, itu juga diksi ala kamu.

Hei kamu si empunya senyum manis,
Ini sudah surat kesekian yang aku kirimkan kepadamu sejak tahun pertama proyek menulis #30HariMenulisSuratCinta ini (dan mungkin surat yang tak akan pernah terbaca olehmu), dan ini sudah tulisan kesekian yang menceritakan tentang dirimu. Tapi sungguh, seperti yang selalu kukatakan berulang kali, menuliskan segala hal tentangmu itu salah satu kegiatan yang menyenangkan. Biarlah semua tulisan-tulisan ini menjadi sebuah kenangan sebagai pengingat bahwa ada rasa yang begitu besar pernah kuberikan padamu. Sebagai pengingat bahwa tak semua hal bisa mudah dilupakan begitu saja. Dan sebagai pengingat bahwa tak semua kesedihan kita harus menjadi kesedihan orang lain juga, justru malah sebaliknya, bahwa kebahagiaan orang lain harusnya merupakan kebahagiaan kita juga. Danke Kamerad!

………………
Kau tak kan hilang, tak pernah hilang
Meski tak berhenti ku mencoba lupakan dirimu
Kau tak kan hilang, tak pernah hilang
Kan selalu terpendam menjadi kenangan………………
(Dua – Tak Kan Hilang)

Karena Kamu Cuma Satu

Hey kamu,

Bagaimana kabarmu? Sepertinya akhir-akhir ini kamu memang sedang sibuk-sibuknya. Aku bisa membayangkan bagaimana lelahnya dirimu bekerja keras akhir-akhir ini. Walaupun kamu tak pernah mengatakannya padaku, tapi aku tau akhir-akhir ini kamu sangat terbeban dengan segala tanggung jawab dan kewajiban yang harus kamu pikul. Masihkah kamu selalu menyembunyikan wajah kelelahanmu itu dengan senyum yang berusaha kamu tunjukkan kepadaku? Masihkah kamu selalu menyembunyikan masalahmu dengan melempar candaan sebagai pengganti pertanyaan-pertanyaan yang kamu anggap terlalu serius?

Hei kamu si pencuri perhatianku,

Hari ini hari pertama proyek menulis #30HariMenulisSuratCinta yang setiap tahunnya aku ikuti. Biasanya surat pertama yang aku tulis selalu tentang dia. Dia yang sudah 5 tahun lebih ini mendiami salah satu sudut di hatiku. Dia yang selama ini selalu menjadi bayang-bayang kemanapun aku melangkah. Namun, entah mengapa untuk kali ini aku lebih memilih untuk menuliskan surat tentangmu. Kamu, yang entah bagaimana caranya bisa dengan mudah mengalihkan perhatianku begitu lama dari dia yang masih saja menjadi bayang-bayang selama 5 tahun lebih ini. Kamu yang sebenarnya biasa saja tapi bisa membuat segalanya ini terasa istimewa. Seharusnya teman-temanku bangga apabila mengetahui hal ini, akhirnya setelah sekian lama aku tak menjejali otak mereka dengan satu nama yang selalu dan selalu saja aku katakan apabila mereka memaksaku berbicara tentang hati.

Hei kamu penguasa hatiku,

Ini memang surat pertama yang aku tujukan padamu, tapi sebenarnya ini kali kesekian celotehan celotehan tak pentingku tentangmu. Mungkin bila huruf-huruf di blog ini dapat berbicara, ia akan menjerit karena terlalu bosan melihat namamu terus menerus disana. Mungkin bila otakku dapat berbicara, ia sudah bosan mengingatkanku bahwa mengingat segala hal tentangmu sesungguhnya adalah pekerjaan yang sia-sia. Namun bagaimanapun, bagiku hal itu adalah pekerjaan yang menyenangkan sekaligus menyedihkan. Menyenangkan mengingat bagaimana aku dan kamu akhirnya bisa saling mengenal. Menyenangkan mengingat hal-hal apa saja yang pernah aku lalui denganmu. Menyenangkan mengingat bagaimana setiap kehadiranmu bagaikan suatu pembangkit listrik untuk diriku. Menyenangkan mengingat bagaimana senyummu. Menyenangkan mengingat bagaimana coklatnya matamu yang bergerak kesana kemari saat berbicara denganku. Menyenangkan mengingat bagaimana gemasnya aku dengan rambut dan alismu itu, dan menyenangkan mengingat bagaimana gurauan yang selalu kamu lontarkan kepadaku. Tapi sesungguhnya hal itu adalah hal menyedihkan pula, karena aku tau kamu tak akan pernah menganggap itu suatu hal yang istimewa–sama seperti yang pernah kamu katakan kepadaku.

Tahukah kamu, kamu adalah satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta sekaligus patah hati dalam waktu yang bersamaan. Sudah kukatakan berulang kali sebelumnya, kamu itu seperti paket lengkap nasi padang. Semua yang aku inginkan ada di dalam kamu. Adalah keseluruhanmu yang memikatku. Kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, kamu dengan segala kesederhanaanmu yang entah bagaimana caranya bisa memikat dan mengalihkan hampir seluruh perhatianku kepadamu. Kamu jugalah yang pada saat bersamaan bisa membuatku patah hati. Tak perlu ku jelaskan mengapa aku mengatakan hal seperti itu. Terkadang aku merasa murka, kenapa Dia harus menghadirkan sosok yang selama ini aku inginkan apabila akhirnya tidak akan mungkin kumiliki sampai kapanpun. Tak jarang aku memaki diriku sendiri yang begitu saja bisa ‘kecanduan’ dirimu. Iya, kamu itu candu. Setidaknya bagiku (dan mungkin juga baginya).

Hei kamu canduku,

Setiap kali aku menuliskan tentangmu, setiapn kali itu juga otakku selalu mengingat segala perdebatan yang pernah aku lalui denganmu. Perdebatan-perdebatan yang sebenarnya tak penting, perdebatan-perdebatan yang sesungguhnya berakar pada ego dan denial yang besar. Walaupun, kecil kemungkinan kamu membaca suratku ini. Namun, aku benar-benar mohon maaf apabila semua itu menyiksamu. Aku mohon maaf apabila ego itu akhirnya membuatmu jengah. Sesungguhnya segala perdebatan itu juga menyiksaku, sama menyiksanya ketika diam-diam aku mengetahui sedikit-demi sedikit hal tentang dia, dia, atau bahkan dia. Sungguh, sebelumnya aku sudah berusaha menyimpannya rapat-rapat ; sendiri. Setidaknya itu yang selalu berusaha aku lakukan. Menyimpan perihnya saat kamu menceritakan dan mengingat masa lalumu. Menyimpan perihnya saat kumenyadari kehadirannya, atau menyimpan perihnya saat kamu bersamanya. Beberapa kali aku berusaha menjaga jarak denganmu, menghidari segala sesuatu yang berhubungan denganmu, berusaha tak mencari tahu kabar tentang keseharianmu, bahkan sampai menyibukkan diri dengan lemburan-lemburan ala corporate slave yang sesungguhnya tak perlu. Namun, lama-kelamaan rasa itu kian menyiksaku. Bagai duri yang menyumbat tenggorokan, aku tak kuasa untuk menahan rasa perihnya, hingga ego lah yang lantang berbicara.

Hei kamu yang setiap lekuk otakmu selalu kukagumi,

Kamu itu cuma satu dan tiada dua. Sungguh wajar kalau apabila bisa membuatku kecanduan sedemikian rupa hingga akhirnya membuat kristal-kristal di pelupuk mata ini selalu mencair. Sungguh wajar apabila kamu bisa dengan mudahnya membuat egoku membesar. Tapi kemudian aku menyadari suatu hal. Walaupun rasa ini terasa makin lama makin membuncah, namun sesungguhnya akan selalu ada hati yang lapang bila aku melihat senyummu terkembang disamping senyumnya, akan selalu ada hati yang lapang bila kamu berusaha sekuat tenaga melakukan segala cara demi membahagiakan dia, akan selalu ada hati yang lapang bila pada akhirnya kamu selalu kembali pulang pada mata yang bisa meluruhkan hatimu itu. Seseorang pernah berkata, “You know it’s love when all you want is that person to be happy, even if you’re not part of their happiness”. Memang terdengar sangat klise, tapi aku yakin kamu bisa merasakan seperti apa rasanya, karena aku tahu kamu pernah merasakannya. Lagipula, bukankah lebih baik melihat orang yang kita sayangi bersama dengan orang lain daripada tidak bisa sama sekali melihatnya dihadapan kita?

Lalu bagaimana tentang rasa itu? Seperti yang berkali-kali aku katakan sebelumnya, kamu tak perlu khawatir, I can handle it dear..It would be a privillege to have my heart broken by you… :’)

NB. : Semoga kesibukanmu akhir-akhir ini membuahkan rejeki yang berlimpah ya, sama seperti rinduku padamu. Terima kasih sudi mampir di mimpiku akhir-akhir ini. Aku rindu. Sangat.