Hai Aldy,
Begitu kan nama panggilanmu, Armanda Geraldy?! Mungkin sebagian besar orang mengenalmu sebagai penyiar radio atau MC kenamaan acara-acara anak muda di Jakarta. Namun bagiku, namamu itu sudah tak asing lagi sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak aku berseragam putih-biru. Aku mengenalmu sebagai mantan ketua majalah sekolah salah satu SMA swasta di Jakarta ; sebagai salah seorang yang memenangkan kompetisi bakat salah satu produk pasta gigi, yang pada akhirnya kamu menjadi salah satu bintang iklannya ; sebagai seseorang yang pernah tercatat menjadi mahasiswa fakultas sastra di salah satu Universitas Negeri kenamaan di Depok ; dan tentu saja sebagai penyiar radio favoritku.
Ya, penyiar radio favoritku. Sesungguhnya aku harus berterima kasih pada segala kecanggihan teknologi dan dunia digital saat ini. Jujur, selama beberapa tahun lalu aku tak pernah lagi melihatmu lagi di majalah favoritku itu. Aku pun tak pernah lagi melihatmu tampil di sela-sela acara favoritku di layar kaca. Namun, berkat adanya twitter, akhirnya aku dapat mengetahui bahwa kamu menjadi penyiar radio di salah satu radio di Jakarta.
Sejak kamu menjadi penyiar radio di sana, aku sering sengaja meluangkan waktuku untuk duduk di depan laptop, menunggu koneksi internet stabil, dan mendengarkan suaramu bahkan melihat wajahmu hingga larut malam. Maklum, saat itu aku masih berstasus sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Surabaya. Jadi satu-satunya cara agar aku bisa mendengar bahkan melihat aksimu hanya dengan melakukan live radio/video streaming itu. Bahkan pada akhirnya stasiun radio itu menjadi stasiun radio favoritku.
Musik. Itulah yang membuatku makin mengagumimu. Sejak aku memutuskan untuk mendengarkan kicauanmu di twitter dan di radio, aku semakin tahu bahwa ternyata selera musikmu tak jauh berbeda denganku. Mulai dari britpop, indiepop, folk sampai electropop. Blur, Coldplay, Oasis, Death Cab For Cutie, Radiohead, MGMT, Tame Impala, Belle & Sebastian, Club 8, Bloc Party, Sore, Payung Teduh, Daft Punk, dan masih banyak lagi. Sungguh betapa senangnya aku pada saat itu.
Pernah ada yang mengatakan “Meeting someone with the same music taste is seriously the best thing ever”. Sungguh kata-kata itu benar adanya. Aku sering sengaja mendengarkan lagu-lagu apa saja yang kamu putar pada saat kamu siaran, karena aku tahu sebagian besar itu tak lepas dari campur tanganmu. Terkadang aku juga sering sengaja menyimak kicauan twitter-mu untuk mendapatkan rekomendasi lagu apa yang menurutmu easy listening, karena lagu itu pasti akan nyaman juga di telingaku.
Tahukah kamu, berkat kicauanmu itu aku jadi tahu tentang band bernama Payung Teduh, jauh sebelum kebanyakan orang-orang di luar sana membahasnya. Tak heran kamu tahu banyak tentang mereka, karena kamu pasti lebih sering tahu mereka beraksi di kampus yang menjadi awal mula mereka terbentuk. Bahkan aku pernah melihatmu secara langsung berteriak-teriak kegirangan dari bawah stage dan menyapanya selepasnya gig mereka di Gandaria City. Mungkin saat itu kamu seperti sedang bernostalgia, merasakan saat-saat kamu masih tercatat sebagai mahasiswa di kampus tempat mereka juga mengenyam bangku kuliah.
Berkat kamu pun aku akhirnya mengenal dan tergila gila dengan lagu-lagu dari salah satu band dari Denmark / Skandinavia ; Mew. Masih ingatkah kamu, dulu kamu sering memposting penggalan lirik lagu Mew yang berjudul “Symmetry”?
“….but ironically you will always be belle of the ball at least to me”
Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu “Symmetry” yang sering kamu posting. Karena terlalu sering kamu posting, sampai-sampai aku penasaran dan mencari tahu tentang Mew dan lagu-lagunya. Sudah ku duga, seleramu tak akan pernah salah. Bahkan hingga sekarang ini aku pun bisa disebut sebagai Frengers—begitulah mereka menyebut penggemar band Mew. Sayangnya, ketika akhirnya aku berkesempatan melihat band ini secara langsung di depan mata pada 31 Maret 2015 yang lalu, aku tak bisa menemukanmu ada diantara orang-orang itu. Padahal aku tahu, kamu sedang ada di sana, bersama Frengers yang lain. Setidaknya aku sudah cukup senang ketika kamu histeris saat aku mencoba menginformasikan tentang solo concert Mew, Maret 2015 lalu melalui akun twitter-mu.
Selain musik ada hal lain yang sangat membuatku kagum kepadamu. Kemampuanmu dalam membuat segala sesuatu menjadi terasa lebih menyenangkan. Selera humormu memang tak perlu diragukan lagi. Sungguh, tak pernah sekalipun aku tak tertawa saat mendengarkanmu berkicau di radio. Padahal waktu itu aku pernah melihatmu sedang diserang flu, demam, dan juga ehmmm patah hati. Tapi dengan sikap profesionalmu itu, kamu masih saja bisa menghibur pendengar setiamu. Tak heran, sikap profesionalitasmu itu membuahkan hasil yang cukup baik. Setelah kamu sukses “menerbangkan” beberapa acara di radio tersebut, akhirnya kamu bersama partnermu itu dipercayakan untuk “menerbangkan” acara di stasiun radio yang lain.
Hey Armanda Geraldy,
Walaupun pada akhirnya, aku tak bisa sesering dulu lagi mendengarkan kicauanmu di radio. Walaupun sekarang selera musikmu sudah berkembang ke arah EDM, Trance, dan sejenisnya yang kurang begitu nyaman di telingaku, tapi aku yakin kamu tetaplah kamu yang dulu. Armanda Geraldy yang selalu bisa menghibur siapapun dengan kicauan dan selera humornya. Be cool, be good, be better!
NB : Aku dulu pernah iseng-iseng untuk menelepon ke stasiun radio saat kamu sedang bertugas. Karena logat Jawaku yang sangat khas, sampai-sampai kamu memutarkan suara gamelan Jawa sebagai backsound saat aku berbicara di telepon. Sungguh, saat itu rasanya campur aduk, antara malu, senang, dan menahan tawa. Ingatkah kamu dengan kejadian itu? Tak ingat pun juga tak apa, setidaknya saat itu kamu bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri di kamar sampai keesokan harinya~