Kita, Kata dan Kota

Kepada kamu yang terlahir
diantara kata,

Mengalir diantara berbagai
kosakata

Membuat lidah kian
terbata-bata

Membangkitkan segala rasa yang
tak tertata

Menyembuhkan luka tanpa
senjata

Kepada kamu sang permata
dalam suatu kota,

Merajai segala rasa tanpa
perlu mahkota

Menumbuhkan segala asa
tanpa perlu banyak nota

Menyerap segala kesedihan tanpa
terbatasi kuota

Meramaikan isi kepala tanpa
banyak anggota

Kepada kamu yang berada
dalam kota penuh kata,

Seandainya ku memiliki mantra-mantra

Akan ku ubah kota penuh
kata menjadi kita meski hanya sementara

 

Salam,

Peramu-kata-dalam-suatu-kota

The perfect words never crossed my mind

Cause there was nothin in there but you

I felt every ounce of screaming out

But the sound was trapped deep in me

…………………

 (Signal Fire by Snow Patrol)

Gaze(bo)

Hell-o kamerad!

Bagaimana kabarmu? Mungkin itu pertanyaan paling basi (yang datang
dari orang yang paling basi dalam kehidupanmu), hahaha. Sesungguhnya saya juga tak
tahu harus membuka surat ini seperti apa.

Surat yang lagi-lagi tak akan pernah sampai kepada orang yang dituju. Surat
yang sejak tahun pertama proyek menulis ini berlangsung akan selalu ada yang
saya tujukan kepada satu orang yang
sama ; kamu. Surat yang berisi getar maupun getir.

Hai kamu penulis kambuhan,

Begitu kan kamu menyebut dirimu sendiri? Sungguh hingga saat ini pun
saya masih terkejut saat menyadari
bahwa kamu benar-benar menaruh perhatian
pada kegiatan yang saya pikir hanya kamu anggap sebagai iseng-iseng belaka.
Kegiatan yang kamu lakukan atas dasar ketertarikanmu yang besar pada dunia yang
tak akan pernah membuatmu bosan ; sepak bola.

Dulu saya berpikir bahwa
kamu akan menaruh perhatian yang cukup serius pada dunia seni grafis. Dunia
yang pernah membawamu malang-melintang dalam berbagai kegiatan publikasi dan
dokumentasi internal kampus bahkan hingga membawamu masuk ke dalam salah satu
tim kegiatan tahunan bergengsi di Jawa Tengah. Bahkan saya sempat berpikir kamu
lebih cocok sebagai seorang graphic designer
atau copywriter daripada sebagai white collar boy. Walaupun saya tahu benar,
kecil kemungkinan kamu akan meninggalkan latar belakang akademismu demi
menekuni dunia itu. Namun sungguh saya tak menyangka kamu akan menekuni
kemampuanmu dalam menulis. Pun ketika pada akhirnya kamu berhasil membuktikan
kemampuan menulismu melalui debut pertamamu dalam media online bertemakan sepak bola.

Belum habis kamu buat saya
terkejut dengan keberanianmu menembus meja editor salah satu media online pada beberapa bulan lalu,
ternyata lagi-lagi kamu berhasil menembus meja editor lain. Masih dengan topik
yang sama – sepak bola, kamu bukan hanya berhasil merebut mata para pengikut
linimasa saja, tapi kamu juga sudah berhasil menuai berbagai pendapat dan
pandangan dari para penggila sepak bola yang lain. Sungguh, dari paragraf
pertama saja saya bisa merasakan bahwa diksi dan semua kata yang terlempar
dalam tulisan itu benar-benar sangat menggambarkan kamu. Sama seperti berbagai
taburan diksi dalam karya grafismu atau gaya penulisan yang selalu bisa saya nikmati
dalam blog pribadimu.

Saya tahu, sejak 7 tahun
lalu saya melihatmu di gazebo kampus
itu, kamu memang bukan terlihat seperti orang yang biasa saya temui. Entahlah
saya serasa melihat berbagai mimpi, keinginan, dan antusiasme yang tak pernah
padam di kepalamu. Benar saja, selama 7 tahun saya mengenalmu perlahan tapi
pasti kamu selalu berhasil membuat sisi kekaguman saya padamu tak pernah padam.

Tapi kemudian saya sadar, tahun
demi tahun berjalan, sesungguhnya rasa itu cukuplah hanya sampai di sini saja.
Biarlah rasa itu akan mati dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu.
Walaupun saya sendiri pun tak tahu pasti hingga kapan kamu masih akan tetap
berdiam di sini. Namun setidaknya saya tak ingin menjadi sebuah sampah basi
yang baunya selalu tercium dimanapun kamu berada. Mungkin beberapa tahun lagi kamu
akan menemukan tulisan ini. Mungkin beberapa tahun lagi kamu akan membacanya
dengan diiringi tawa dan canda seseorang yang saya tahu sudah berada di
sampingmu selama hampir tujuh tahun ini, dan berbagai kemungkinan-kemungkinan lain yang entah.

Hey kamerad, I want you to know that everytime I write something
about you, I feel like……you know….I feel like jump a little on my toes as
looking up at you with adoring gaze from a campus gazebo. Yeaah, but it could
be my final gaze tho.

 Keep it up kamerad! I’ll wait for your
next writing project!

 ……

Stay a while I’m taking my final
gaze

you see

gonna look back this time

I will wonder the words again

my dear

………

(Gaze by Adhitia Sofyan)

PS : Terima kasih terkadang
kamu masih sudi mampir di dalam alam bawah sadar saya. Kamu tahu, senyummu itu
candu!

Kamerad dalam Seperempat Abad

HAPPY BIRTHDAY, KAMERAD!

7 tahun yang lalu saya bertemu dengan
lelaki yang entah tiba-tiba saja menarik perhatian saya. Ia memakai baju
garis-garis hitam putih sedang duduk di gazebo kampus. Rambutnya sedikit
berantakan karena tertiup angin yang berhembus. Tubuhnya yang kurus dan tinggi
menjulang melengkapi kulitnya yang sedikit gelap. Dan senyumnya….entahlah
saya suka senyumnya. Itu saja. Entah siapa sesungguhnya dia, apa yang
dilakukannya, mengapa dia ada di situ pun saya pun tak tahu-menahu, apalagi mengetahui
segala sesuatu tentangnya.

Beberapa bulan setelah itu saya
bertemu dengannya lagi, di tempat yang berbeda. Dengan wajah kelelahan tapi
tetap bersemangat. Sejak saat itu saya tahu dia bukan lelaki seperti yang biasa
saya temui. Saya tahu dia memiliki sesuatu yang entahlah saya tidak bisa
menggambarkannya dengan kata-kata. Yang saya tahu dia berbeda. Itu saja. Tak
lama setelah itu segala perkiraan saya tentangnya benar-benar nyata. Dengan
cara yang mengagumkan ia selalu bisa membuat dunia saya tercengang. Beberapa bulan setelah itu hingga hari ini, nama dan segala sesuatu tentangnya tak bisa sedikitpun
hilang dari ingatan saya. Berbagai
karya dan hasil buah pikirnya selalu berhasil membuat saya berdecak kagum
hingga hari ini. Tak jarang berbagai atribut dan hal-hal kecil seperti poster,
sinematografi, fotografi, klub sepak bola, sepatu olahraga, buku sastra, bahkan
hanya sekedar angka 11 saja bisa mengingatkan saya tentangnya. Dan hari ini
lelaki itu sedang mengalami pertambahan usia.

Seperempat abad, kamerad! Ternyata
memang waktu tak akan pernah bisa diam. Saya tahu, saya pasti kalah apabila
saya diminta untuk menggambarkan bagaimana bentuk fisikmu saat ini. Namun saya
yakin, senyummu masih sama mempesonanya. Senyum yang terakhir kali bisa saya
saksikan dengan secara nyata pada 3 atau 4 tahun lalu. Tinggimu pun saya yakin
masih sama menjulangnya. Hidungmu masih sama mancungnya, dan salah satu sudut
otakku yang masih sama isinya. Kamu.

Kali ini saya tak akan bertanya bagaimana kabarmu sekarang, karena saya
yakin kamu selalu baik-baik saja. Setidaknya itu yang bisa saya lihat dari akun
media sosialmu. Iya, maaf saya terkadang masih mencari tahu tentangmu dari
sana. Saya tahu, lagi-lagi tulisan tentangmu ini tak akan pernah bisa sampai
kepada yang dituju ; kamu. Tetapi bagaimanapun, di matinya benda ini, kamu akan
tetap dan selalu hidup di sini.

7 tahun kamerad! Sungguh, rasa itu
sebenarnya masih ada, meringkuk sendirian bertemankan kehampaan. Hingga
akhirnya ia mati rasa. Tersungkur dan tak ada rasa. Beberapa kali saya mencoba
menghidupkannya dengan mencoba mencarimu dalam diri orang lain. Namun, mungkin
itu cara terbodoh yang pernah ada.
Beberapa kali rasa itu bisa hidup kembali, namun tak lama kemudian segera layu
bahkan terkadang terpaksa susut sebelum rasa itu berkembang.

 Saya tahu dan
saya sadar, seperti yang saya katakan berulang kali, rasa ini bukan lagi dalam
taraf ingin memilikimu. Memilikimu bukanlah menjadi tujuan saya lagi. Saya
hanya masih belum bisa menghilangkan jejakmu dari hati dan pikiran saya. Itu
saja. Entah butuh waktu berapa lama lagi agar bisa berhasil benar-benar
menghilangkanmu, atau bahkan mungkin memang tak akan pernah bisa hilang? Entahlah..

 Hei kamu yang
lekuk otaknya selalu ku kagumi. Beberapa tahun lalu saya sempat mengatakan
bahwa 5-10 tahun lagi saya akan melihat hasil buah ide pikiranmu yang
terpampang di billboard pinggir
jalan. Ternyata perkataan saya itu pada akhirnya benar-benar menjadi kenyataan,
walaupun tidak persis sama nyatanya. Beberapa bulan lalu saya mencuri lihat
kabar bahwa kamu berhasil menembus meja editor artikel salah satu website yang menyuguhkan berita sepak
bola. Kamu dan hasil buah pikirmu akhirnya berhasil mengantarkanmu menjadi
salah satu guest writer atau
kontributor pada website yang
berbasis di kota Bandung itu. Artikel hasil buah pikirmu yang akhirnya bisa
dibaca oleh beribu-ribu pasang mata yang sedang berselancar di dunia maya,
termasuk saya. Sungguh, lagi-lagi kamu berhasil membuat saya tercengang. Bahkan
saya tak menyadari kamu memiliki bakat menulis sedemikian bagusnya. Saya hanya
tahu sejak dulu kamu aktif menulis blog tentang olah raga yang sangat kamu
gemari, sepak bola. Saya juga tahu diksimu yang khas, yang selalu terpampang di
berbagai poster atau karya grafismu itu memang sangatlah mengagumkan. Tapi
sungguh saya tak menyangka, pada akhirnya kamu benar-benar mengambil langkah
nyata untuk mewujudkannya. Yeah, I know
you’re the boy who couldn’t stop dreaming
. That’s why I’m so adore you, boy!

 Entah ini
kali ke berapa saya mengucapkan momen pertambahan usiamu sejak saya bertemu
denganmu 7 tahun lalu. Saya tahu, sesungguhnya ucapan-ucapan itu hanyalah
ucapan yang sia-sia, karena tidak akan pernah sampai kepadamu. Mungkin, bila
saya dianugerahi keberanian diri dan kesempatan bertemu denganmu, saya akan
memberikan satu amplop kecil namun dengan isi yang sangat besar. Amplop itu
akan berisikan semua tulisan-tulisan saya tentangmu, semua kata-kata puitis
yang sebenarnya lahir karena adanya kamu, semua rasa yang pernah saya simpan
untukmu, dan semua hal yang selama ini tak pernah bisa saya sampaikan kepadamu.
Mungkin dengan begitu semua rasa yang menyiksa saya selama 7 tahun ini bisa
perlahan menghilang, walaupun saya yakin betul kamu akan selalu tetap hidup di
sini. Di semua tulisan-tulisan saya.

Your single side won’t be denied
Your melodramatic instant sign
is beyond my reach
Missing you is just too much
Why don’t you just figure it out
You’re fading and i’m still waiting

 (Berlin-The Trees and The Wild

PS : Masihkah
segala sesuatu tentang Jerman menarik perhatianmu? Karena saya sendiri masih
mengidentikkanmu dengan Jerman. Lagu Berlin ini terputar secara acak saat saya
sedang menuliskan tulisan ini. Terima kasih sudah memperkenalkan secara tidak langsung
The Trees and The Wild kepada saya. Sesungguhnya bila mengingat perjalanan band
indie yang dulu kamu pernah sukai ini, selalu mengingatkan saya kepadamu. Bukan
hanya karena salah satu judul lagunya yang berjudul Berlin yang notabene ada di
Jerman. Tapi juga karena album pertamanya beredar saat di tahun pertama saya
bertemu denganmu. Lalu 7 tahun kemudian mereka mengeluarkan album kedua. Sama
seperti rasa ini yang masih tersimpan 7 tahun lamanya.

 ALLES GUTE
ZUM GEBURSTAG, KAMERAD!

Jakarta, 11 November 2016

Yang Tidak Pernah Kamu Tahu Pada Pukul Sebelas Menit Ke Sebelas

Jam berdentang sebelas kali. Memori dalam otakku
berlarian tanpa kendali. Kembali ku temukan kamu di sana memenuhi seluruh
volume otakku tanpa kecuali. Sungguh aku tak pernah menyangka, sudah hampir
tujuh tahun ini kamu berdiam di sana. Aku sering diam-diam mendapati diriku
bermain – main dengan kenangan dan khayalan tentangmu. Kenangan yang tentu saja
tak pernah kamu anggap ada. Khayalan yang tentu saja tak pernah kamu harapkan
ada. 

Jarum jam telah bergeser ke angka sebelas. Lagi –
lagi bayangan tentangmu selalu saja melintas dan tak akan pernah tuntas. Berkali-kali
aku mencoba mengusirnya, namun sialnya selalu bisa kutemukan kamu berada di sana,
pada hal-hal kecil dan remeh-temeh. Lagu, konser musik, film pendek, buku, poster
suatu acara, sepatu olahraga, kamera, pertandingan sepak bola, pameran seni,
bahkan aku bisa saja menemukanmu pada angka 11.

Sebelas. Mungkin bagimu angka ini tak lagi
penting. Sepertinya angka ini hanya berarti ketika kamu menyadari bahwa putaran
kalender telah memasuki bulan ke sebelas hari ke sebelas, karena itu berarti kamu
telah memasuki usia baru. Sesungguhnya yang terpenting bagimu adalah
kehadirannya dalam hidupmu. Dia yang entah bagaimana selalu bisa membuatmu lebih
hidup dan berwarna. Dia yang dengan caranya bisa membuatmu rela menghabiskan
hari demi hari dengannya hingga hitungan tahun ke enam. Bukan hitungan tahun
yang sebentar tentunya. 

Kadang aku berpikir, mungkin yang kamu tahu, aku
hanyalah orang kesekian yang tergila-gila padamu. Mungkin yang kamu tahu aku
hanyalah orang yang terlalu terobsesi padamu. Mungkin yang kamu tahu aku hanyalah
orang asing yang rela diperbudak kenangan dan khayalan tentangmu. Yang tidak
kamu tahu bahwa sesungguhnya jauh di dalam hati, aku sangat tersiksa dengan
rasa ini. Yang tidak kamu tahu bahwa selama hampir tujuh tahun ini aku selalu berusaha
membuka hati kepada yang lain, walaupun hanya berakhir dengan sia-sia. Yang
tidak kamu tahu bahwa berkali-kali aku harus menelan ludah karena aku bertemu
dengan orang-orang yang secara fisik mirip denganmu. Yang tidak pernah kamu
tahu bahwa sejak pertama kali aku melihatmu di salah satu acara tahunan kampus
kita tujuh tahun silam, ada kupu-kupu yang menari-nari kegirangan di dalam
perutku dan pada akhirnya aku menyadari ternyata sampai saat ini kupu-kupu itu
tak pernah berhenti menari. Yang tidak pernah kamu tahu bahwa diam-diam aku
selalu tersenyum ketika mencuri lihat kamu telah mencapai suatu tahap
kesuksesan atau kebahagiaan dalam hidup. Dan yang tidak pernah kamu tahu bahwa sejak
tujuh tahun lalu hanya kamu yang aku rindu dengan menggebu-gebu, tanpa terlalu
namun selalu.

Pukul sebelas, menit ke sebelas. Aku masih saja diam-diam
menyimpan rasa yang tak akan pernah bisa kamu balas.

Tuhan dalam Imaji

If God had a name what would it be?
And would you call it to his face?
If you were faced with him in all his glory
What would you ask if you had just one question?
…………………..
(Alanis Morisette – What If God Was One of Us)

How’s your day, God? Saat menulis surat untuk-Mu ini, aku sedang mendengarkan lagu itu melalui pemutar lagu favoritku. Ya, Engkau pasti sudah hafal kebiasaanku mendengarkan lagu saat sedang rehat dari rutinitas kerja. Terkadang aku berimajinasi, tempat kerja-Mu itu pastilah sangat sibuk, bahkan lebih sibuk dari tempat kerjaku. Seperti hiruk pikuk restoran 24 jam yang selalu melayani berbagai macam pelanggan. Tapi anehnya, Engkau tetap selalu punya waktu untuk mereka satu per satu. Bahkan Engkau sudah paham bagaimana menghadapi berbagai macam karakter pelanggan, apalagi yang sudah menjadi pelanggan tetap restoran itu. Padahal tak jarang mereka datang dengan berbagai macam keluhan dan keinginan yang aneh dan tak akan pernah ada habisnya. Termasuk aku.

Aku sering mengimajinasikan Tuhan itu semacam public figure yang sangat terkenal di mana-mana. Berbagai macam surat datang dari penggemarmu seluruh penjuru dunia. Di tengah-tengah “rutinitas-Mu” sehari-hari, dengan sabar dan tetap tersenyum Engkau membaca huruf per huruf, kalimat per kalimat yang tertulis di setiap surat. Kemudian memilah-milah mana yang perlu dibalas dengan segera, mana yang perlu surat balasan yang sedikit panjang, dan mana surat yang perlu waktu khusus untuk membalasnya. Tak jarang bahkan Engkau membalasnya dengan memberikan “hadiah” yang tak akan pernah disangka-sangka oleh penggemarmu. Hebatnya, tak akan ada satu pun surat yang akan terlewat dan tak akan dibalas oleh-Mu. Hanya saja mereka sepertinya sering tak sabar menunggu balasannya. Entah karena mereka merasa sudah terlalu lama mengirim surat atau entah karena memang stok sabar dirinya yang minim. Termasuk aku.

Aku juga sering mengimajinasikan Tuhan itu seorang penulis skenario film. Seperti penulis skenario film yang lainnya, Engkau pasti sudah bekerja keras pagi-siang-sore-malam untuk menyusun jalan cerita. Menambahkan bumbu-bumbu komedi, romansa, atau drama. Menampilkan berbagai macam karakter dan memikirkan bagaimana membuat akhir cerita yang akan selalu diingat sepanjang masa. Bahkan Engkau sudah menyiapkan berbagai kemungkinan-kemungkinan jalan cerita yang lain. Tapi terkadang, sang aktor dan aktris belum memahami, menyelami, dan menghayati film itu secara utuh dan mendalam. Tak jarang sang aktor dan aktris itu terkesan meremehkan skenario yang sudah Kau tulis dan melakukan improvisasi dengan gayanya masing-masing. Termasuk aku.

Hei Tuhan yang berdiam dalam imajiku, akhir-akhir ini sungguh banyak kejadian yang sebenarnya sulit untuk aku pahami. Mungkin aku kurang sabar menanti balasan surat yang sudah aku kirim. Mungkin aku juga belum mampu menghayati dan memahami secara mendalam peran yang Kau tuliskan untukku, atau mungkin aku terlalu banyak berimprovisasi, sehingga jalan ceritanya terasa aneh. Bagaimanapun ketika aku melakukan rencana A yang menurutku sudah tepat, entah mengapa Engkau selalu sudah menyiapkan rencana B, C, D, dan seterusnya agar aku tak merasakan kecewa berkepanjangan bila rencana A tak semulus yang kubayangkan. Tak jarang pada akhirnya, setelah sekian lama aku akan tersadar bahwa rencana B,C,D, dan seterusnya itu justru akan membawaku pada rencana A dalam kemasan yang jauh lebih indah. Ah sudahlah, Tuhan memang imaji yang tak terdefinisi.

So, may I call You “kamerad” ?
Yeah, danke kamerad!

Surat Kesekian di Hari ke-11 bulan Februari

So if you’re lonely
You know I’m here waiting for you
I’m just a cross-hair
I’m just a shot away from you
………………
(Franz Ferdinand – Take Me Out)

Aku sengaja memutar berulang-ulang beberapa lagu favoritmu. Salah satunya lagu yang dinyanyikan Franz Ferdinand yang berjudul Take Me Out. Masihkah lagu itu menjadi lagu favoritmu? Masih ingatkah kamu sekitar tahun 2009 yang lalu kamu sengaja datang ke kota tempat tinggalku sekarang ini untuk melihat Alex Kapranos beraksi? Event yang (sepertinya) kamu gadang-gadang sebagai hadiah ulang tahunmu ke 18, karena event itu berlangsung hanya beberapa hari saja setelah hari ulang tahunmu. Mungkin aku hanya sedang merindukan kamu. Itu saja

Sedang sibuk kah kamu dengan rutinitas kerjamu? Bagaimana rasanya menjadi salah seorang yang berada dibalik meja, mengurus segala sesuatu tentang remeh-temeh manusia dan segala permasalahannya dalam lingkup organisasi? Harusnya kita bisa berdiskusi banyak tentang hal ini, atau bahkan malah aku yang harus berguru padamu. Mungkin aku hanya sedang merindukanmu. Itu saja.

Kemarin aku bertemu lagi dengannya. Orang yang sangat mirip denganmu. Lagi-lagi aku tak dapat menahan diri untuk selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya. Melihat apapun yang melekat padanya. Kemudian secara otomatis indera penglihatanku ini akan mengirimkan sinyal-sinyal ke otakku, dan menerjemahkan bahwa itu lah kamu. Lagi-lagi mungkin aku hanya merindukan kamu. Itu saja.

Aku pun sengaja memutar kembali video iseng-isengmu yang berisikan kumpulan foto-foto segerombolan teman-temanmu di kampus yang bertabur diksimu yang sangat khas. Memutar kembali video yang sengaja kamu buat bersama tim pubdok untuk teaser salah satu event tahunan di kampus. Lagi-lagi dengan balutan diksi yang sangat khas darimu. Aku pun akhirnya melihat kembali berbagai ekspresi senyummu yang terbingkai dalam format dua dimensi itu. Sekali lagi, mungkin aku hanya sedang merindukan kamu. Itu saja.

Hey, hari ini tanggal 11. Masih kah angka ini menjadi angka favoritmu? Atau sudah kah angka favoritmu berubah menjadi angka 19? Atau malah 13? Tak perlu kujelaskan lagi maksud angka-angka itu. 11, 19, 13. Aku yakin orang-orang terdekatmu pasti sudah paham, kenapa aku bisa mengatakan itu angka favoritmu. Hey, jangan salahkan otakku ketika aku melihat kalender dengan tulisan angka 11 ternyata yang kuingat adalah kamu. Mungkin aku hanya sedang merindukan kamu. Itu saja.

Ini surat cinta kesekian untukmu di Hari ke-11 bulan Februari dan aku masih saja merindukanmu setiap hari.

“……Dia Berkata. Masa Lalu Berwarna. Masa Depan Penuh Warna……”

Ingatkah kamu dengan kata-kata itu? Hey, mungkin aku hanya sedang merindukan kamu. Itu saja.

Hey Armanda Geraldy

Hai Aldy,
Begitu kan nama panggilanmu, Armanda Geraldy?! Mungkin sebagian besar orang mengenalmu sebagai penyiar radio atau MC kenamaan acara-acara anak muda di Jakarta. Namun bagiku, namamu itu sudah tak asing lagi sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak aku berseragam putih-biru. Aku mengenalmu sebagai mantan ketua majalah sekolah salah satu SMA swasta di Jakarta ; sebagai salah seorang yang memenangkan kompetisi bakat salah satu produk pasta gigi, yang pada akhirnya kamu menjadi salah satu bintang iklannya ; sebagai seseorang yang pernah tercatat menjadi mahasiswa fakultas sastra di salah satu Universitas Negeri kenamaan di Depok ; dan tentu saja sebagai penyiar radio favoritku.

Ya, penyiar radio favoritku. Sesungguhnya aku harus berterima kasih pada segala kecanggihan teknologi dan dunia digital saat ini. Jujur, selama beberapa tahun lalu aku tak pernah lagi melihatmu lagi di majalah favoritku itu. Aku pun tak pernah lagi melihatmu tampil di sela-sela acara favoritku di layar kaca. Namun, berkat adanya twitter, akhirnya aku dapat mengetahui bahwa kamu menjadi penyiar radio di salah satu radio di Jakarta.

Sejak kamu menjadi penyiar radio di sana, aku sering sengaja meluangkan waktuku untuk duduk di depan laptop, menunggu koneksi internet stabil, dan mendengarkan suaramu bahkan melihat wajahmu hingga larut malam. Maklum, saat itu aku masih berstasus sebagai mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di Surabaya. Jadi satu-satunya cara agar aku bisa mendengar bahkan melihat aksimu hanya dengan melakukan live radio/video streaming itu. Bahkan pada akhirnya stasiun radio itu menjadi stasiun radio favoritku.

Musik. Itulah yang membuatku makin mengagumimu. Sejak aku memutuskan untuk mendengarkan kicauanmu di twitter dan di radio, aku semakin tahu bahwa ternyata selera musikmu tak jauh berbeda denganku. Mulai dari britpop, indiepop, folk sampai electropop. Blur, Coldplay, Oasis, Death Cab For Cutie, Radiohead, MGMT, Tame Impala, Belle & Sebastian, Club 8, Bloc Party, Sore, Payung Teduh, Daft Punk, dan masih banyak lagi. Sungguh betapa senangnya aku pada saat itu.

Pernah ada yang mengatakan “Meeting someone with the same music taste is seriously the best thing ever”. Sungguh kata-kata itu benar adanya. Aku sering sengaja mendengarkan lagu-lagu apa saja yang kamu putar pada saat kamu siaran, karena aku tahu sebagian besar itu tak lepas dari campur tanganmu. Terkadang aku juga sering sengaja menyimak kicauan twitter-mu untuk mendapatkan rekomendasi lagu apa yang menurutmu easy listening, karena lagu itu pasti akan nyaman juga di telingaku.

Tahukah kamu, berkat kicauanmu itu aku jadi tahu tentang band bernama Payung Teduh, jauh sebelum kebanyakan orang-orang di luar sana membahasnya. Tak heran kamu tahu banyak tentang mereka, karena kamu pasti lebih sering tahu mereka beraksi di kampus yang menjadi awal mula mereka terbentuk. Bahkan aku pernah melihatmu secara langsung berteriak-teriak kegirangan dari bawah stage dan menyapanya selepasnya gig mereka di Gandaria City. Mungkin saat itu kamu seperti sedang bernostalgia, merasakan saat-saat kamu masih tercatat sebagai mahasiswa di kampus tempat mereka juga mengenyam bangku kuliah.

Berkat kamu pun aku akhirnya mengenal dan tergila gila dengan lagu-lagu dari salah satu band dari Denmark / Skandinavia ; Mew. Masih ingatkah kamu, dulu kamu sering memposting penggalan lirik lagu Mew yang berjudul “Symmetry”?

“….but ironically you will always be belle of the ball at least to me”

Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu “Symmetry” yang sering kamu posting. Karena terlalu sering kamu posting, sampai-sampai aku penasaran dan mencari tahu tentang Mew dan lagu-lagunya. Sudah ku duga, seleramu tak akan pernah salah. Bahkan hingga sekarang ini aku pun bisa disebut sebagai Frengers—begitulah mereka menyebut penggemar band Mew. Sayangnya, ketika akhirnya aku berkesempatan melihat band ini secara langsung di depan mata pada 31 Maret 2015 yang lalu, aku tak bisa menemukanmu ada diantara orang-orang itu. Padahal aku tahu, kamu sedang ada di sana, bersama Frengers yang lain. Setidaknya aku sudah cukup senang ketika kamu histeris saat aku mencoba menginformasikan tentang solo concert Mew, Maret 2015 lalu melalui akun twitter-mu.

Selain musik ada hal lain yang sangat membuatku kagum kepadamu. Kemampuanmu dalam membuat segala sesuatu menjadi terasa lebih menyenangkan. Selera humormu memang tak perlu diragukan lagi. Sungguh, tak pernah sekalipun aku tak tertawa saat mendengarkanmu berkicau di radio. Padahal waktu itu aku pernah melihatmu sedang diserang flu, demam, dan juga ehmmm patah hati. Tapi dengan sikap profesionalmu itu, kamu masih saja bisa menghibur pendengar setiamu. Tak heran, sikap profesionalitasmu itu membuahkan hasil yang cukup baik. Setelah kamu sukses “menerbangkan” beberapa acara di radio tersebut, akhirnya kamu bersama partnermu itu dipercayakan untuk “menerbangkan” acara di stasiun radio yang lain.

Hey Armanda Geraldy,
Walaupun pada akhirnya, aku tak bisa sesering dulu lagi mendengarkan kicauanmu di radio. Walaupun sekarang selera musikmu sudah berkembang ke arah EDM, Trance, dan sejenisnya yang kurang begitu nyaman di telingaku, tapi aku yakin kamu tetaplah kamu yang dulu. Armanda Geraldy yang selalu bisa menghibur siapapun dengan kicauan dan selera humornya. Be cool, be good, be better!

NB : Aku dulu pernah iseng-iseng untuk menelepon ke stasiun radio saat kamu sedang bertugas. Karena logat Jawaku yang sangat khas, sampai-sampai kamu memutarkan suara gamelan Jawa sebagai backsound saat aku berbicara di telepon. Sungguh, saat itu rasanya campur aduk, antara malu, senang, dan menahan tawa. Ingatkah kamu dengan kejadian itu? Tak ingat pun juga tak apa, setidaknya saat itu kamu bisa membuatku tersenyum-senyum sendiri di kamar sampai keesokan harinya~

Lagi

Lagi. Lagi-lagi aku bertemu denganmu. Di tempat yang sama, di waktu yang sama. Sama dengan beberapa hari lalu. Beberapa minggu lalu, dan bahkan beberapa bulan lalu.

Lagi. Lagi-lagi aku hanya bisa berdiri termenung. Mengamatimu dari ujung kaki sampai kepala, sambil diam-diam menelan ludah. Melihatmu dengan nafas yang sedikit tertahan di paru-paru, dan melihatmu datang dengan kenanganku.

Lagi. Lagi-lagi seakan-akan aku sedang melihatnya berdiri di depanku. Wajah yang selalu ku rindukan. Wajah yang sering hadir di tiap malamku. Wajah yang tak pernah dapat ku lihat lagi beberapa tahun belakangan ini. Wajah dengan lengkung senyum yang juga tak kalah ku rindukan itu.

Lagi. Lagi-lagi aku melihatmu menggunakan hoodie itu. Melihatmu memasukkan tanganmu ke dalam saku celanamu. Melihatmu menggenggam ponsel itu. Melihatmu memamerkan tawa dengan gigi-gigimu yang rapi. Melihatmu memperlihatkan mimik serius, dan melihatmu menghadirkan wajah penuh kenangan.

Lagi. Lagi-lagi kamu memandangku dengan tatapan aneh, kemudian aku akan balas memandangmu dengan tatapan sendu. Mengamati hidungmu yang mancung. Alismu yang tebal. Tubuhmu yang tinggi dan kurus. Kulitmu yang sedikit gelap. Bibir yang entah mengapa selalu membuatku tercekat. Rambut hitammu yang tersisir rapi ke samping, dan sinar mata itu…….sinar mata yang selama ini selalu aku rindukan.

Lagi. Lagi-lagi aku tak pernah paham, mengapa Ia selalu saja menghadirkan wajah-wajah yang mirip dengannya. Bahkan kali ini dihadirkan-Nya dengan “komposisi” yang sama tetapi dalam “kemasan” yang berbeda.

Lagi. Lagi-lagi aku hanya bisa berdiri mematung di sebelahmu. Melihatmu sebagai dirinya. Memutar pita kaset kenangan dalam otak. Menikmati detik demi detik, menit demi menit yang seakan-akan terus menyiksaku sebagai budak kenangan.

Lagi. Lagi-lagi aku harus menyimpan berbagai macam pertanyaan yang berkecamuk di dada dan menyimpan rasa yang tak terdefinisi. Ingin rasanya ku lontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tentu saja tak akan pernah bisa kau jawab. Seolah-olah kaulah sebenar-benarnya dia.

Lagi. Lagi-lagi aku harus bersiap-siap menghadapi kenyataan, bahwa sesaat lagi aku tak akan bisa melihat wajahmu itu. Wajah yang menghadangku dengan kenangan. Wajah yang membuatku seakan melayang ke kota kenangan.

Lagi. Lagi-lagi aku bertemu denganmu, hei lelaki misterius pembawa kenangan~

NB : Seandainya aku bisa memiliki kesempatan untuk berbicara denganmu, aku ingin meminta maaf karena aku sering menatapmu dengan tatapan sendu itu. Oh ya, aku pernah mendengar ada yang memanggilmu Mei. Itu kah namamu? Hei namamu memang Mei, tapi sesungguhnya kamu seperti November. Kamu-sungguh-sangat-mirip-dengannya.

Hey Mr. Microphone

Hey Mr. Microphone,

Apa kabar? Apakah kamu saat ini baru saja selesai menjalankan tugasmu?
Kalau mereka tau apa profesimu, maka mereka pasti paham kenapa aku menyebutmu dengan Mr. Microphone. Entahlah, aku pun juga tak begitu paham, apa sebenarnya nama alat yang identik dengan tugas sehari-harimu itu. Tapi aku lebih suka menyebutnya dengan microphone saja.

Ketidaksengajaanlah yang membawaku dapat bertemu denganmu. Di tengah hiruk pikuknya acara yang menjadi tanggung jawabmu, aku melihatmu di situ. Tubuh atletis yang tinggi menjulang, alis yang cukup tebal, kumis tipis yang menghiasi wajahmu, rambut pendek yang sengaja kamu rapikan ke atas dengan menggunakan kunciran, ditambah dengan seperangkat microphone dan headset yang menghiasi kepalamu, kamu berjalan ke sana ke mari. Berdiskusi dengan teman-temanmu yang lain, berkali-kali melihat ke arah kertas yang kamu bawa sambil melihat ke arah barisan kursi tribun, sampai pada akhirnya salah satu temanku yang saat itu sedang bersamaku, menghampirimu. Dengan sabar dan senyum manis kamu pun mengarahkan dan memberikan kode kepada temanku yang tentu saja pernah bekerja sama denganmu. Pada saat itulah, aku tak sengaja melihat namamu yang terpampang jelas di saku bajumu. Nama yang cukup bagus.

Ya, perjumpaanku denganmu memang sangat minim sekali. Bahkan bisa dihitung dengan jari-jari dalam satu tangan saja. Tapi aku bisa melihat bahwa apa yang kamu lakukan saat itu sungguh dapat membuat mataku terbelalak. Bahkan dalam setiap perjumpaan itu, mataku tak akan pernah bisa melepaskan sedikitpun darimu. Dengan cekatan kamu selalu saja dapat menyelesaikan tugasmu pada segmen demi segmen dengan durasi yang sangat terbatas. Setidaknya aku dapat melihat jelas, bahwa kamu benar-benar bertanggung jawab dalam mengerjakan tugasmu itu. Terkadang aku sengaja memanggil ingatanku kembali tentang penjelasan tugasmu yang pernah dijelaskan dengan rinci oleh salah seorang temanku, yang pernah berprofesi sama sepertimu. Biasanya setelah itu aku akan menyamakan penjelasan temanku tersebut dengan apa yang sedang kamu lakukan. Sungguh, tak pernah tampak wajah kelelahan, atau wajah murung yang kamu perlihatkan. Padahal bisa saja hari itu kamu pulang sampai larut demi menjalankan tugasmu. Bahkan bisa saja kamu hari ini pulang larut, kemudian esok pagi-pagi buta kamu harus bersiap kembali menjalankan tugasmu.

Hey Mr. Microphone,
Aku tau, mungkin bila kamu bisa membaca surat ini, kamu pasti akan menyamakanku dengan mereka, para penggemarmu yang cukup banyak itu. Hmmm, sebenarnya aku agak keberatan bila disamakan dengan mereka. Setidaknya aku tak pernah terlalu memuja-mujamu, apalagi sampai meminta waktumu untuk berfoto denganku. Ya, walaupun harus aku akui, wanita manapun setidaknya akan menoleh kepadamu, meskipun hanya sebentar. Stage demi stage, acara demi acara, kamera demi kamera pun, telah kamu lalui. Ditambah dengan keramahanmu tiap menghadapi orang baru, maka aku tak heran bila makin banyak yang berlomba-lomba untuk dapat mengenalmu, atau bahkan sekedar menyapamu.

Hey Mr. Microphone,
Aku ingin membuat pengakuan kecil. Sejak bertemu denganmu aku jadi semakin rajin melihat credit title yang muncul setiap selesainya acara yang ditayangkan dalam layar 32 inchi itu. Terkadang aku dengan cepat dapat menemukan namamu terpampang di sana dan sesudahnya aku akan tersenyum-senyum sendiri membacanya. Terkadang diam-diam aku pun sering mengintip kegiatan temanku, untuk sekedar mengetahui, apakah kamu sedang bertugas di sana atau tidak. Atau terkadang diam-diam aku menyimak berbagai foto yang kamu unggah dan kamu tandai. Kamu tahu, apa yang makin membuatku kagum padamu? Ketaatanmu pada-Nya. Dengan penampilanmu yang seperti itu, aku tak pernah menyangka ternyata kamu sebegitu taatnya. Bahkan terkadang aku jadi malu sendiri.

Hmmm, sepertinya aku sudah terlalu banyak memujimu dalam surat ini. Baiklah, aku rasa ini sudah cukup. Lebih baik aku akhiri saja surat ini daripada mereka menyebutku sebagai penggemarmu. Apabila semesta berkenan, aku tak keberatan bila akhirnya bisa bertemu denganmu lagi~ 😀

NB : Hey setelah aku pikir-pikir, senyummu itu maut juga ya, apalagi kalau kamu tersenyum sambil berhiaskan microphone dan headset di kepalamu. Ya, ya, ya, baiklah, aku paham. Mungkin aku harus pasrah saja kalau mereka akhirnya menyebutku sebagai penggemarmu.

Let It Happen

Hai kamu, apa kabar?
Hari ini hari pertama #30hariMenulisSuratCinta. Seperti yang aku lakukan pada tahun-tahun sebelumnya, akan selalu ada surat yang aku tujukan padamu. Entah ini surat ke berapa yang pernah aku tujukan kepadamu selama beberapa tahun berlangsungnya project menulis ini.

Beberapa hari yang lalu aku sempat menonton salah satu film Indonesia yang baru saja dirilis. Judulnya Surat dari Praha. Di film itu ada seseorang mahasiswa yang bernama Jaya. Ia terpaksa “menghilang” ke Praha karena mempertahankan idealismenya. Namun selama ia di Praha, tepatnya setelah 20 tahun ia “menghilang” di sana, ia selalu mengirimkan surat-surat cintanya untuk orang yang dia sayangi, Sulastri. Surat-surat cinta itu dia kirimkan terus-menerus karena ia belum mendapatkan balasan suratnya, sampai-sampai ia beranggapan bahwa surat itu tak pernah sampai kepada yang dituju. Padahal surat itu sampai dan akhirnya berbalas, walaupun setelah berpuluh-puluh tahun dan dengan kondisi yang berbeda.

Ketika melihat film itu aku seperti melihat bahwa Jaya itu aku dan Sulastri itu kamu. Namun, sepertinya Jaya masih lebih beruntung daripada aku. Setidaknya surat-suratnya itu sampai kepada yang dituju dan mendapatkan balasan, dan bukan seperti aku. Tapi setidaknya berkat kamu, tulisan-tulisan di blog ini masih tetap hidup. Mungkin belasan tahun lagi aku hanya bisa senyum-senyum dan sedikit tertawa geli sendiri saat membacanya kembali.

Beberapa bulan lalu, saat kamu sering mampir di mimpiku, aku sempat mencuri lihat kabar, ternyata kamu sudah menjadi salah satu bagian BUMN besar di Indonesia. Pada awalnya aku sedikit kaget, tak menyangka kamu akan menjadi pekerja kantoran seperti itu. Maklum, dari dulu aku selalu melihatmu menggunakan pakaian casual, lengkap dengan hoodie yang selalu berganti-ganti dan sneakers kesayanganmu. Lagipula kamu cukup berbakat di bidang yang sangat berbeda dengan latar belakang akademismu. Jadi aku tak menyangka saja kamu akhirnya menjadi pekerja kantoran seperti itu. Aku pun sedikit kaget bercampur tak percaya kamu bisa menembus proses rekrutmen BUMN yang terkenal ketat itu. Namun ketika aku mengingat-ingat kembali tentang hal-hal tentangmu yang menurutku menakjubkan, sepertinya hal itu tak mustahil terjadi. Kamu memang tak terlalu menonjol di bidang akademis, bila dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif yang sempurna. Tapi aku tahu kamu memiliki otak yang menakjubkan. Setidaknya langkahmu itu membuatku lebih semangat untuk menata masa depanku kembali. Kalau kamu bisa seperti itu, aku juga pasti bisa.

Beberapa hari lalu aku juga sempat melihat posting-an salah satu senior di kampus kita tentang Festival Film yang setiap tahunnya diadakan di kota Solo. Aku yakin kamu sangat mengenal orang itu. Seringkali ia menjadi partner diskusimu dan gadis gamangmu–begitu kamu menyebutnya, ketika membicarakan tentang sinematografi. Lalu, seketika itu juga aku teringat tentangmu. Festival Film itulah yang pernah mencatut namamu menjadi salah satu bagian dari mereka.

Pun ketika tak sengaja aku melihat akun acara tahunan Fakultas kita yang saat itu mem-posting tentang merchandise acara tahunan itu. Acara tahunan yang melibatkanmu beberapa kali, terutama dalam proses publikasi dan dokumentasi. Termasuk merchandise acaranya.

Entahlah sampai tahun ke berapa kamu masih akan menjadi bayang-bayangku. Almost 6,5 years and still counting (?) I don’t know. Gila juga ya. Kalau diibaratkan sekolah, sudah lulus SD dan masuk SMP. Terkadang, masih saja aku berharap bisa tiba-tiba bertemu denganmu entah di mana. Mungkin yang berubah darimu hanya pipimu yang sedikit menggelembung dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Namun aku yakin, senyum itu masih akan selalu sama. Senyum yang diam-diam selalu aku perhatikan ketika kamu berada di sekitarku. Tapi sekarang aku hanya bisa tersenyum melihat rekaman cahaya itu yang memperlihatkan berbagai macam ekspresi wajahmu. Atau tersenyum-senyum sendiri ketika seringkali tak sengaja berapapasan dengan salah satu orang yang sangat mirip denganmu. Atau bahkan tersenyum getir saat menyadari kamu hadir di mimpiku.

Yang perlu kamu ketahui, surat-surat cinta yang pernah aku tujukan kepadamu bukan karena aku masih menginginkanmu. Bukan. Surat-surat itu, termasuk surat ini tak lebih hanya sekedar tulisan-tulisan sebagai pengingat tentang kamu. Sama seperti yang telah aku katakan berkali-kali, surat-surat ini hanya sebagai pengingat bahwa ada rasa yang begitu besar pernah aku berikan kepadamu. Karena untuk urusan hati, aku sangat tahu bahwa hatimu sudah terikat padanya. 5 tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar. Jadi tak mungkin hatimu akan berpaling begitu saja dengan mudahnya. Lagipula kamu bukan tipe orang yang seperti itu. Mungkin dulu aku sempat sedih ketika melihat kebersamaanmu dengannya. Tapi mereka benar, waktu menyembuhkannya dan mengikhlaskan adalah kuncinya. Walaupun rasa ini masih belum hilang, tapi rasa ini bukan lagi dalam taraf ingin memilikimu. Mungkin bila surat ini terbaca olehmu dan gadis gamangmu, aku yakin kamu dan dia hanya senyum-senyum sendiri saja sambil geleng-geleng kepala, sambil bergumam, “ada aja orang seperti ini” hahahaha..

Sudahlah, bagaimanapun aku yakin kamu sekarang sedang baik-baik saja. Mendengar kabarmu sekarang, sudah sama susahnya dengan mengusirmu jauh dari ingatanku. Kebiasaanmu yang tak pernah sekalipun menggembar-gemborkan atau sekalipun menginformasikan masalah pribadimu ke media sosial, sesungguhnya salah satu hal yang tak mengenakkan juga buatku. Tapi justru di situlah aku kagum kepadamu. Bahkan tentang hal itu, ada kata-katamu yang selalu aku ingat-ingat sampai sekarang, karena sebenarnya bila diresapi sangat dalam maknanya.

“Untuk beberapa orang, jejaring sosial dan kehidupan nyata adalah pertindakan yang berbeda, perlakuan yang berbeda. Seolah menemukan keterbukaan dimatinya benda ini” (Y, 2011)

Kata-kata itulah yang selalu menjadi bayang-bayang ketika aku mencoba mengalihkan perhatian ke media sosial. Kata-kata itulah yang membuatku akhirnya mengerti dan paham mengapa kamu begini, dan mengapa kamu begitu kepadaku. Mengapa saat itu kamu berlaku seperti itu dan bukan seperti ini. Saat ini aku hanya bisa menjalani semuanya. Mungkin memang aku harus melalui waktu-waktu dimana selalu teringat tentangmu. Waktu-waktu dimana aku masih belum bisa menghapus semua ingatan tentangmu selama hampir 6,5 tahun ini dan entah sampai kapan………….Yaaah, sama seperti yang dikatakan Tame Impala—salah satu band kesukaanmu dalam lagunya yang berjudul “Let It Happen”

It’s always around me, all this noise
But not nearly as loud as the voice saying
Let it happen, let it happen it’s gonna feels so good
Just let it happen, let it happen
………………..
(Tame Impala – Let It Happen)

NB : Hey, sudah tau kan Tame Impala April 2016 mendatang datang ke Jakarta?! Tidak kah kamu ingin ke Jakarta lagi untuk melihat gignya untuk kedua kali? Hmmm, tapi tak yakin kamu akan ke sini untuk menontonnya. Selain lokasinya jauh, kamu kan belum punya cuti… :p