New Memories with Friend with Memories (?)

Selamat Tahun Baru kamu!

Happy New Year 2021 to you, my friend with memories! Apa kabar kamu? Pertanyaan ini bukan sekadar pertanyaan basa-basi yang sering kamu dengar saat bertemu teman lamamu. Karena sesungguhnya aku sendiri pun ingin tahu kabarmu, mengingat sudah hampir 1 bulan ini kamu memutuskan untuk tidak lagi melakukan kontak denganku.

Kamu selalu bertanya-tanya kan, kenapa kamu tidak pernah ada di tulisan-tulisanku. Kemudian akan selalu ku jawab pula dengan jawaban yang selalu sama.

Kebanyakan tulisan-tulisanku itu lahir saat sedang sedih atau sedang kecewa, maka dari itu kalau kamu baca-baca seringnya tulisanku bernadakan kesedihan dan kekecewaan. Sedangkan selama aku mengenal kamu kurang lebih 2,5 tahun ini, sebenarnya tak ada alasan untukku bersedih atau kecewa. Ya walaupun selalu ada saja pertengakaran dan kesalahpahaman yang terjadi diantara kita. Setidaknya itu tidak membuatku tenggelam dalam kesedihan atau keterpurukan yang berlarut-larut.

Tapi tentu saja kamu selalu tak pernah percaya akan alasanku itu. Selalu saja kamu merasa iri dengan mereka yang pernah aku kenang dalam tulisan-tulisanku itu. Walaupun sudah aku jelaskan berkali-kali juga alasan mereka ada di sana. Namun mungkin kali ini aku harus menyerah, karena tulisan ini akhirnya aku tujukan juga untuk kamu. Seperti yang sudah kamu angan-angankan dari dulu.

Mengenal kamu selama kurang lebih 2,5 tahun ini dan kebersamaan kita selama kurang lebih 2 tahun kemarin, menyadarkanku ternyata banyak hal-hal baru yang aku alami. Mulai dari (akhirnya) aku memiliki partner menonton gig, partner mengelilingi kota Jakarta dengan segala kuliner dan hidden gems-nya, partner window shopping ke mall, partner groceries shopping, partner makan di warkop, partner makan di warteg, partner chat dan teleponan tiap hari sampai ketiduran, dan (akhirnya) punya instagram bf, wkwkwkkw.

Sayangnya kebersamaan kita selama 2 tahun kemarin mau tidak mau memang harus diakhiri karena justru makin lama kita malah saling menyakiti. Selain karena ada satu dua hal prinsipal yang memang aku rasa sudah tidak bisa kita berdua tolerir lagi, baik dari sisi kamu maupun sisi aku sendiri.

Tapi sungguh, aku sangat-sangat berterima kasih kepadamu atas segala daya upaya, sayang, dan perhatian yang pernah kamu berikan kepadaku selama 2 tahun kebersamaan kita kemarin. Kamu yang dengan mudahnya bisa mengenal moodku hanya dari nada suara atau tingkah laku yang aku tunjukkan. Kamu yang bisa mengenal ada hal yang kusembunyikan hanya dengan melihat kebiasaanku. Kamu yang selalu sabar menghadapi aku ketika aku sedang sakit dan mendadak uring-uringan. Kamu yang selalu sabar menghadapi sifat manja dan kekanak-kanakanku yang terkadang tiba-tiba muncul. Kamu yang tetap bisa memaafkan aku walaupun aku pernah sangat-sangat menyakitimu. Kamu yang selalu mencoba untuk menumbuhkan rasa kepercayaan diriku karena kamu tahu aku tidak pernah bisa percaya diri dan malah terkadang merasa tidak berharga. Kamu dengan segala macam kekuranganmu tapi tetap berusaha membuat segala sesuatunya baik di mataku.

Aku juga sangat-sangat berterima kasih kepadamu, di saat pertengahan tahun 2020 kemarin, 4 bulan lamanya kamu dengan sabar menemaniku mencoba menolongku dari keterpurukan yang tidak sengaja aku ciptakan sendiri. Padahal bisa saja kamu marah, sangat marah. Karena dia yang membuatku terpuruk saat itu justru seseorang yang juga hadir diantara kita dan membuatku perlahan-lahan menjadi orang yang menyakitimu. Namun dengan sabar kamu tetap mencoba menolongku, menemani dalam proses healing yang sebenarnya tidak mudah. Bahkan aku harus berkali-kali menyerah, saat akhirnya kamu memergokiku tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dan air mata yang tiba-tiba sudah mengucur deras di ujung mata. Dengan segala upaya kamu mencoba menghiburku, menemaniku kemanapun aku bisa melupakan kesedihan itu dan menghujani kalimat-kalimat bernadakan keikhlasan. Sampai pada akhirnya aku benar-benar bisa sedikit ikhlas melepaskannya. Melepaskan segala ekspektasiku yang salah pada orang yang tidak tepat.

Aku tahu, pada akhirnya nanti kita harus saling melihat bahwa kita akan berada di jalan masing-masing. Kamu dengan entah siapa nanti. Aku dengan entah siapa nanti. Walaupun sesungguhnya kata “nanti” pun terasa masih “entah”. Karena entah siapa juga yang mau bersamaku. Tapi siapapun yang nanti bersamamu, aku yakin dia akan lebih segalanya daripada aku. Walaupun sesungguhnya, membayangkan melihatmu bersama yang lain terkadang justru hal yang tidak ingin kubayangkan.

Sesungguhnya aku sangat berharap kita masih bisa menciptakan memori-memori baru sebagai teman. Tapi ternyata mungkin kita belum mampu berada dalam level itu. Kita ternyata masih belum bisa saling menerima apabila salah satu dari kita pada akhirnya bersama yang lain walaupun hanya sebatas teman. Kita ternyata masih saling beradu argumen mengenai baik tidaknya seseorang yang kebetulan saat itu sedang dekat dengan kita. Kita ternyata masih belum bisa untuk saling support dalam menemukan hal apa atau siapapun yang tepat bagi satu sama lain. Hingga pada akhirnya sekarang kita masih harus berada dalam level stranger with memories. Tapi sungguh, aku akan selalu ada di sini, menunggu kamu sampai kamu siap. Siap untuk menciptakan memori-memori baru kita sebagai teman. Teman yang punya memori-memori masa lalu itu. Well however, we’re friend with memories.

*Ditulis di atas kereta api saat menuju Jakarta, di hari ke 3 bulan Januari 2021*

Kaleidoskop 2020, God is Good.

Tahun 2020 bisa dikatakan tahun yang “istimewa” bagi hampir semua orang, tak terkecuali aku. Sungguh, sampai sekarang rasanya masih belum percaya, aku bisa berubah menjadi orang yang seperti itu hanya karena luka yang sebenarnya biasa-biasa saja tapi sepertinya terlalu tertancap ke dalam. Lebih buruknya lagi, aku sendiri yang terkadang membuat luka itu lebih dalam lagi. Perih.

Tadinya…..Aku berpikir, satu sampai tiga bulan di awal tahun 2020 ini aku bisa mendapatkan semangat hidup baru—setidaknya itu yang aku rasakan. Walaupun terkaget-kaget dengan situasi dunia yang digemparkan oleh pandemi ataupun satu-dua hal yang menyakitkan hati tapi setidaknya aku bisa merasakan sedikit ada harapan untuk bisa mencicipi rasa bahagia.

Namun ternyata aku salah. Memasuki bulan ke lima, enam, tujuh, dan puncaknya di bulan ke delapan, aku kalah. Segala harapan-harapan yang tadinya aku susun satu persatu harus runtuh begitu saja. Segalanya menjadi lebih rumit, menjadi lebih menyakitkan. Bahkan aku terkadang seperti tidak mengenali diriku sendiri. Aku berubah seakan-akan menjadi monster. Aku menjadi aku yang bukan aku.

Tak banyak yang tahu selama 4 bulan itu aku bertarung dengan diriku sendiri yang bukan aku. Mencoba bangkit, mengesampingkan segala rasa sakit. Mencoba memaafkan diri sendiri dan memaafkan segala tingkah laku seseorang yang sangat-sangat aku hargai keberadaannya dalam hidupku dalam beberapa bulan terakhir pada saat itu.

Ditambah lagi situasi pandemi dan tugas pengembangan diri dari tempatku bekerja yang semakin lama semakin menghimpitku. Pernah suatu kali aku merasa lelah. Terbangun di pagi hari dengan memasang senyum yang terpaksa tanpa asa.

Tapi betapa Tuhan itu baik. Sangat baik. Tak banyak yang tahu, dalam 4 bulan masa-masa sulit itu Tuhan banyak menghadirkan malaikat-malaikat yang baik. Ada banyak tangan-tangan yang menolongku, menarikku dari lubang kesedihan, bahkan dari tangan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Hey Mr. Cool, kamu tahu kan kenapa aku memanggilmu seperti itu? Hahahha. Terima kasih banyak yaa. Terima kasih yang teramat banyak aku ucapkan untukmu. Mungkin kamu sudah bosan, berkali-kali aku selalu mengatakan bahwa aku berutang budi kepadamu. Mungkin kamu akan menganggap bahwa tulisan ini terlalu berlebihan dan seperti biasa kamu hanya akan menanggapinya dengan respon andalanmu “Selow” “Santai”.

Tapi sungguh, aku merasa sangat-sangat berhutang budi padamu. Entah apa yang terjadi apabila waktu pagi-pagi dini hari itu tidak ada kamu. Aku pun juga sebenarnya tidak menyangka kenapa waktu itu namamu yang aku cari dalam daftar chat aplikasi pink itu. Padahal kalau dipikir-pikir aku masih dalam hitungan hari mengenal kamu.

Kamu adalah orang pertama yang aku ceritakan betapa kalutnya aku pada dini hari itu, saat aku tersadar akan kenyataan di depan mata yang menyakitkan. Kamu adalah orang pertama yang yang dengan santai tapi ajaibnya cukup manjur untuk menghiburku pada dini hari itu. Kamu adalah orang yang pertama pula yang bisa menguatkan aku, bisa memunculkan sedikit demi sedikit harapan-harapan baru.

Kalau kata orang-orang yang berjiwa spiritual tinggi, saat dini hari itu mungkin ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Mungkin Tuhan memang sengaja mengirim kamu waktu dini hari itu untuk membantuku. Dan terbukti, berkat adanya kamu, beberapa bulan terakhir langkahku sedikit terasa lebih ringan, terlebih di saat-saat 4 bulan masa krisis itu. Padahal kamu sering berkilah bahwa sebenarnya kamu tidak melakukan apa-apa. Kamu salah, kamu sudah sangat-sangat banyak membantuku.

Padahal aku tahu benar, banyak kesedihan, kekhawatiran, kekalutan, kekecewaan yang sengaja kamu sembunyikan rapat-rapat dari hadapanku. Ingin rasanya melucuti satu persatu perasaan-perasaan yang sengaja kamu sembunyikan itu, dengan topeng “sok cool” dan “cuek” itu, tapi aku sadar mungkin kamu belum begitu nyaman untuk “menampilkan” kamu yang sebenarnya di hadapanku

Sungguh, aku sangat menyesal ketika aku harus meletakkan beberapa judgemental-judgemental yang tidak berdasar kepadamu, hanya karena aku sangat takut berputar-putar dalam lingkaran yang sama. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menuduhmu. Aku hanya takut. Itu saja.

Mengingat segala hal tentangmu seperti membaca salah satu puisi Lang Leav berjudul “Angels”

Entah sampai kapan kehadiranmu ini diperuntukkan untuk aku? Apakah hanya sampai di sini, karena Tuhan merasa tugasmu sebagai malaikat yang menyelamatkanku sudah selesai? Atau masih adakah tugas-tugas lain yang Tuhan berikan? Namun, kalau memang tugasmu hanya sampai di sini, aku sangat-sangat berharap kamu tetap bisa mengingatku sebagai orang yang sangat-sangat terbantu akan keberadaanmu.

Sesungguhnya aku sangat-sangat berharap Tuhan mengirimmu bukan hanya untuk “tugas dinas” saja. Aku berharap kamu bisa menjadi teman sekaligus “malaikat” yang bisa aku ajak bercanda, bertukar pikiran, berdiskusi segala hal, berkeluh kesah dan sebaliknya kamu juga. Walaupun entah kapan aku bisa meruntuhkan tembok yang sengaja kamu bangun tinggi-tinggi itu. Aku masih ingin berbagi terang bulan coklat kacang, berbagi pizza, berbagi cerita-cerita, berbagi kicauan tentang acara tv yang kita tonton, dan berbagi keluh kesah.

Semoga tahun depan kamu tetap diberkati Tuhan ya, tetap menyisakan semangat, walaupun aku tahu kamu mungkin sudah lelah dengan segala hal di depanmu. Sekali lagi, terima kasih atas bantuan kehadiranmu di kehidupanku tahun 2020 ini. Sungguh, aku masih ingin melihatmu di kehidupanku di tahun depan dan tahun-tahun berikutnya. Dan apabila saat itu tiba, saat tembok itu sudah bisa runtuh, dan kamu tak tahu harus bercerita kepada siapa, C’mon I”ll be here for you~

Desember, 2020

*Ditulis diatas kereta api yang sedang melaju kencang meninggalkan Jakarta, sembari menunggu meninggalkan tahun 2020*

Reciprocal

Pernah tidak ketika kamu kenal dengan seseorang terutama dengan lawan jenis, kemudian kalian saling bertukar cerita tentang masa lalu dan kemudian terbersit pertanyaan,

“Bagaimana ya rasanya disayangi sebegitunya sama dia?”

“Bagaimana ya rasanya di-bucinin sebegitunya sama dia?”

“Bagaimana ya rasanya ketika kita sayang dengan tulus dan ternyata rasanya bersambut?

Bahkan terkadang muncul perasaan iri terhadap masa lalunya, karena merasa betapa beruntungnya orang-orang di masa lalu itu bisa merasakan disayangi oleh orang yang ada di hadapanku.

Mungkin aku hanya sedang berada dalam fase lelah saja. Karena seringkali hanya berada dalam lingkaran setan yang itu-itu saja. Bahkan kalau bisa dibilang siklusnya sama seperti gambar di bawah ini, gambar yang sempat aku temukan beberapa saat lalu saat aku berselancar di media sosial.

Well, sometimes I feel like….maybe I don’t deserve anyone. And somehow I’m wondering what I could’ve done to make them stay.

So, how it feels being loved by someone you love? How it feels being loved by you? I want to know~

For 27 years I’ve been trying
To believe and confide in
Different people I found

Some of them got closer than others
And some wouldn’t even bother
And then you came around

I didn’t really know what to call you
You didn’t know me at all
But I was happy to explain

I never really knew how to move you
So I tried to intrude through
The little holes in your veins
And I saw you

But that’s not an invitation
That’s all I get
If this is communication
I disconnect
I’ve seen you, I know you, but I don’t know
How to connect
So I disconnect

………

(The Cardigans – Communication)

Somebody ever says to me,

“Write whatever the hell you want to read”

……and today I want to read anything about you, therefore I write it~ XD 

Happy Birthday, you!

Stay punny, stay hottie!

You’re really my cup of (hot) tea! :p


Jakarta, March 22nd, 2017

Dear My Wonderwall,

Thank you for making me to be the better version of my self. Even though you never did anything for me.

Thank you for kissing away the pain, even though you never said anything to me.

Well, it sucks when I know who I want to be with so badly, but I can’t do nothing about it.

I know I will do anything to fight for what I truly want and desire, but then I realize…………..

.
.
.

It probably such a waste of time~

.
.
.
.
.

There are many things / that I would like to say to you / but I don’t know how / because maybe / you’re gonna be the one that saves me / and after all you’re my wonderwall //

Rindu Itu Berwarna Kuning Bukan Biru

Hai kamu,

Sudah terbangun dari lelap tidur
kah kamu? Saya rasa sudah. Karena menurut saya justru saat akhir pekan seperti
ini kegiatanmu lebih padat daripada biasanya. Untuk kali ini saya tidak akan
membuat surat yang berima. Sesungguhnya tanpa rima pun surat ini sudah terdengar
indah, karena ada kamu yang saya ceritakan di sini. Well, I’m being very sincere with my flirting, and seriously I can’t
stop teasing you, hahahha. Kidding! I can totally stop teasing you if you’re
not into it tho.

Hai kamu,

Seandainya saya bisa melipat jarak, saya ingin bisa melipatnya menjadi sangat kecil. Hingga tak ada satu milimeter pun diantara kita. Hingga akhirnya saya bisa berada di sampingmu, mendengarkan
apa saja yang ingin kamu katakan, melepaskan apa yang kamu anggap sebagai
kecemasan. Anggap saja saya orang asing yang biasa bertanya tentang segala ide,
hasrat, dan mimpi-mimpi yang selalu bermunculan di kepalamu, hingga akhirnya
ceritamu itu dapat mereka bagikan kepada khalayak ramai yang mereka sebut
sebagai pengunjung, pembaca, atau apapun itu namanya. Atau mungkin kamu bisa
menganggap saya sebagai layar belasan inchi yang sering menemani dimana pun
kamu berada. Atau mungkin kamu bisa anggap saya sebagai dinding yang mungkin saja
biasa kamu maki-maki atas ketidakpuasanmu, kecemasanmu, dan kelelahanmu
terhadap hal-hal yang membuatmu terperangkap dan terikat. Tapi pada
kenyataannya, toh saya hanya bisa berdiam dan menunggu di sini, menerka-nerka
dengan mengandalkan sedikit logika dan mengesampingkan segala rasa.

Hai kamu,

Mereka bilang rindu itu berwarna
biru. Tapi bagi saya rindu itu berwarna kuning. Karena bagi saya kamu seperti
warna kuning. Hangat seperti mentari. Ceria seperti anak kecil yang sedang
berlari-lari. Karena kamu, langkah terasa lebih ringan dari hari ke hari.
Karena kamu, segala nyeri perlahan memunculkan wajah yang berseri-seri. Keep that yellow glow shining yaa!

Salam,

Penyuka-warna-biru-yang-merindu

PS : I love it when you talk about something you care about. I can imagine the
way your eyes lights up! 😀


……………..

Ceritakan padaku indahnya keluh kesahmu

Sebelum angin senja membasuh jauh

Tetaplah di istanamu langit yang biru kelabu

Biarlah rinduku ku simpan bersama mimpiku

Bilakah kau ajakku bertemu kembali selalu

Ku tunggu kuningmu di setiap waktuku

………………

(Kuning by Rumah Sakit)

Luka

Kepada kamu yang jenaka,

Ada rindu yang kian terbuka

Saat kehadiranmu semakin langka

Dan ku hanya mampu menerka-nerka

Tapi nyatanya ku hanya bisa
berlogika

Kepada kamu yang sulit ku terka,

Apakah kamu sedang terluka?

Karena aku ingin menawarkan cuka

Karena sesungguhnya aku tak pandai
merawat luka

Tapi akan ku temani kamu menemukan
suka

Kepada kamu yang pernah terluka,

Rinduku bukan hanya retorika

Seandainya tak pernah ada kata jika

Ingin ku patahkan semua logika

Agar ku seka semua luka menjadi
romantika

Salam,

Perempuan-perindu-yang-juga-pernah-terluka

…………………..

If you looking for disappointment

You can find it around any corner

In the middle of the night I hold on to you tight

So both of us can feel protected

 

Tell me where it hurts

to hell with everybody else

All I care about is you and that’s the truth

…………………

(Tell Me Where It Hurts by Garbage)

3 Pertanyaan

Hai kamu,

Terkadang saya ingin bertanya
banyak hal padamu. Sedang apa kamu? Sudah bangun atau masih terlelap dalam
tidur? Masih sibukkah kamu berkutat dengan layar belasan inchi itu? Tapi
saya rasa pertanyaan itu semua terlalu membosankan. Jadi saya akan bertanya
kepadamu, mengapa kamu bisa begitu saja membuat saya tersenyum bahkan di
saat-saat saya tak ingin tersenyum sekalipun?  

Hai kamu,

Terkadang saya ingin bertanya banyak
hal padamu. Mungkin tentang mengapa bumi itu bulat? Atau mungkin tentang
mengapa di bumi terdapat gravitasi? Atau tentang kemungkinan adanya kehidupan
di Mars? Tapi saya rasa pertanyaan itu terlalu berat untuk dipikirkan menjelang
akhir pekan. Jadi saya akan bertanya kepadamu, mengapa bagi saya kamu begitu
menakjubkan bahkan di saat ada banyak hal lain yang lebih menakjubkan di luar sana?

Hai kamu,

Terkadang saya ingin bertanya
banyak hal padamu. Contohnya seperti mengapa huruf-huruf yang tersusun secara
acak bisa terlihat menarik? Atau mengapa warna merah-hijau-biru terlihat lebih jelas
dibandingkan dengan warna lainnya? Atau mengapa sebuah tulisan harus memiliki
judul? Atau bagaimana caranya membuat orang tetap tertarik membaca tulisan kita
dari awal sampai akhir? Tapi saya rasa pertanyaan itu terlalu teknis. Jadi saya
akan bertanya kepadamu, mengapa kehadiranmu bisa mendorong saya benar-benar melakukan
suatu hal bahkan di saat-saat saya enggan melakukannya?

Hai kamu,

Masih banyak pertanyaan yang ingin
saya ajukan padamu. Masih banyak hal yang ingin saya ketahui tentangmu. Tapi
saya rasa tak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Tak semua hal pula harus
saya ketahui. Karena bagaimanapun, saya tak akan mampu mengajukan berbagai
pertanyaan itu kepadamu. Karena bagaimanapun, saya tak tahu bagaimana caranya
agar bisa berbicara banyak hal denganmu.

…………….

There are many things that I would

like to say to you

But I don’t know how

 

Because maybe

You’re gonna be the one that save me

And after all

You’re my wonderwall

……………………

(Wonderwall by Oasis)